September 4, 2008...4:03 pm

Forgive me, Farah

Jump to Comments

Malam ini aku merasa sedih, karena besok adalah peringatan 100 harinya kematian sahabatku. Padahal besok ada ulangan Biologi, Fisika sekaligus Bahasa Inggris. Aku sebeeeeel… Tapi dalam hatiku tidak ada minat belajar sama sekali. Terdengar lagu pembuka “Ada Apa dengan Cinta”…. Apalagi belajar, “Ada Apa dengan Cinta” yang aku sukai pun tidak ingin aku tonton, sedang seru-serunya lagi…. Aku pun berjalan ke arah jendela, aku melihat bulan memancarkan sinarnya yang lembut. Aku berharap aku bisa merasa lebih baik, namun tidak… semuanya sama saja. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan atau mengapa aku jadi begini.

Sekarang aku sedang menjalani masa SMU-ku, kelas 1 SMU tepatnya. Aku kembali mengingat sahabatku, saat kami masih bersama. Memang, aku dan dia telah mengalami masa-masa indah berdua. Aku sangat merindukannya, tetapi ia sudah tidak ada di sisiku lagi. Sejujurnya aku merasa amat bersalah padanya. Amat-sangat-bersalah. Betapa tidak? Aku telah berbuat jahat padanya. Andaikan dulu… dulu sekali… aku tidak terbawa perasaan, tentu hal ini tidak mungkin terjadi. Aku pasti masih bisa bercanda dan tertawa bersamanya. Sebab semua ini salahku sampai ia pergi selamanya, Farahku telah tiada. Sahabat sejatiku telah tiada.

Teringat olehku aku setahun yang lalu….

Aku adalah seorang siswi teladan, amat terkenal karena otakku yang jenius, mungkin, tetapi semua itu palsu, itu bukan kehidupanku yang sebenarnya. Aku hidup dalam kesepian yang mendalam. Yah, itu hanyalah kiasan. Aku bukan seorang yatim piatu. Aku punya ayah dan ibu. Keduanya sehat wal’afiat. Namun… mereka hanyalah ilusi. Mereka hanyalah nama tanpa raga. Setiap kali aku pulang ke rumah, yang menyambutku hanyalah Bik Inem, pengasuhku sejak kecil.

Saat aku hendak ujian akhir, tak ada yang menemaniku. Saat aku butuh bantuan mereka, tak satupun yang ada untuk menolongku. Aku sedih, aku terlalu sering menangis hingga tidak bisa menangis lagi.

Di sekolah, guru-guru selalu memujiku bagai bintang. Ketika aku naik kelas 3 SLTP, orang tuaku pun terlalu sibuk bekerja sehingga tidak bisa menemui wali kelasku untuk mengambil raporku. Teman-teman menjauhiku, semuanya. Aku benci mereka, beeeeeeenciiiiiiiiii !

Saat tahun ajaran baru dimulai, aku merasa boring dengan keadaanku yang selalu seperti ini. Teman-teman yang berbeda…. Yah, memang tiap tahun sekolah kami selalu mengadakan oplos kelas. Tadi malam aku bermimpi melihat dua bintang jatuh masuk ke jendela kamarku, tapi aku tidak tahu artinya, mungkin sesuatu yang aku impikan akan terwujud. Lamunanku dikagetkan oleh suara cewek, “Eh, kenalan dong! Kamu Viena yang terkenal itu kan! Aku Farah teman sebangkumu yang baru.” Hah! Kejutan apa ini, mengapa dia berani-beraninya menggangguku. “Sorry ya, tapi aku nggak ada minat temenan ama lu. Mending lu gak usah ngganggu gue lagi! UNDERSTAND!” jawabku kesal. Dia hanya terbelalak kaget melihatku. ‘Huh , biar saja itu kan hakku.’

Sejak saat itu ia begitu mengesalkanku, dia kan teman sebangkuku. Tiap kali bertemu, “Vi, yuk kita ke kantin bareng!” or “Eh, Vi ada yang ulang tahun. Yuk beli kado sama-sama!” or “Vi, Rio mau ajak kita ke kafe. Mau nggak ?” dan masih banyak lagi yang makin membuatku kesel sama dia. Oh ya… Rio, dia terkenal sebagai sohib deketnya Farah. Tapi aku rasa mereka lebih dari sekedar sahabat, mungkin… pacaran… tapi semua itu bukan urusanku.

Jam lima sore, ah capek sekali. Aku baru pulang dari kursus bahasa Perancis di Sagan. Aku pun langsung menyalakan TV ku. Untuk refreshing, “Bik Inem! Ayah Ibu ada pesen nggak?”.“Tidak ada tuh, Non. Saya mah tidak dikasih tahu apa-apa sama ibu.” jawabnya. Begitulah setiap hari, tanpa ibu tanpa ayah. Lupakan! Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Kulihat sebuah film telenovela di layar TV, aku tidak tahu judulnya tapi aku melihat a man is kissing a woman. Hiii… Aku jijai melihat itu semua. Masa CO2 disalurin sih, nehi nehi lagi. Namun setiap kali melihat sesuatu, semuanya terekam dalam ingatanku. Termasuk soal yang tadi itu, kadang-kadang ada sebuah keinginan dalam hatiku untuk… TIDAK ! Itu bukan aku, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku selalu berpikir ‘Mengapa orang jaman sekarang lebih menonjolkan budaya barat daripada budaya Indonesia yang agung?’’ dan hal itu masih berputar-putar dalam ingatanku.

“Kriiiiiiiing!” telepon kamarku berdering. Padahal aku sedang membaca novel favoritku, SUPERNOVA. “Ya, ini Viena. Dari siapa?”.“Oh Viena, ini Farah. Aku mau ajak kamu jalan ke mal, aku butuh temen. Abis…”. “STOP! Emang apa urusan gue ama lu, hah !” potongku. “Sorry, sebenarnya Rio mau nemenin aku. Cuma dia ada kursus bahasa Jepang hari ini. So…” lanjutnya. “Sorry juga, gue gak ada waktu buat lu. And Bye…” Kututup teleponnya. ‘Aku heran kok bisa-bisanya dia mengajakku, sebagai ganti Rio lagi. Emang aku siapanya ? Dasar cewek kurang kerjaan.’ umpatku dalam hati.

Saat itu hatiku belum tergerak oleh perhatiannya

“Aku berangkat ya, bik.” Aku berjalan keluar, supirku Pak Bono sudah menungguku dengan mobil Ferrari biru mengkilat milik ayahku. Aku diam membisu, sebenarnya aku ingin sekali menggantikan Pak Bono menyupir. “Pak, boleh nggak aku belajar nyupir?”. “Wah, maaf ye non. Aye kagak berani ame nyonye. Ntar, aye bise dimarahin ame nyonye.”jawab laki-laki setengah baya itu. Yah, mungkin memang belum saatnya.

Sampai sekolah aku berjalan lemas, mungkin keasyikan main Internet tadi malam. Tiba-tiba seorang cowok mendekat ke arahku. Ia… Rio. “Kok, kamu nggak mau nemenin Farah sih? Kan kasihan dia. Kamu tahu nggak sih!”tanyanya. “NGGAK! Dan aku emang gak mau tau urusan dia. Bukan urusanku tau! Lagipula itu semua tugasmu, pacarnya. Bukan AKU!!!” Aku bersiap ke kelas, tapi dia menahanku. “DIAM! Kau jangan pernah ganggu dia, OK!” Lalu ia membiarkanku pergi. Sejenak hatiku berdetak karena kagetnya.

Pak Zidane ngoceh panjang lebar about sejarah kemerdekaan Indonesia. Farah yang berada di sampingku terlihat amat pucat. Awalnya aku biarkan, tapi tampaknya ia benar-benar sakit. Dan dia…pingsan. “FARAH!” aku berteriak. Terlihat Rio amat cemas, ia langsung berlari menuju mejaku. Ia memapah Farah sambil meminta izin pada Pak Zidane, ia sama sekali tak mempedulikanku.

Aku masih berada di sekolah, Pak Bono kubiarkan menunggu di pintu gerbang. Aku tak tahu kenapa aku masih berada di sini, tapi… “VIENA!” seseorang memanggil namaku. “Kamu nggak perlu khawatir, Farah nggak apa-apa kok. Ternyata kamu perhatian juga, ya.” Ternyata Rio yang menghampiriku “Nggak, sapa yang khawatir, lu kan! Lagipula aku memang belum dijemput kok!”jawabku. Rio tersenyum sambil menunjuk Ferrari biru di depan pintu. ‘Huh! Biar saja!’ Aku pun ngeloyor pergi, eh dia masih tersenyum-senyum geli. “TADI, SORRY YA!”ucapnya.

Seseorang menghampiriku, sosok yang amat kukenal diikuti sosok lain yang juga familiar untukku. Aku memeluk salah satu sosok itu dengan kedua belah tanganku. Aku merasakan kehangatan. Tiba-tiba terlihat dua sosok lainnya. Dan… “Ting Tong Tung Tang!” bel wekerku berdering. Ternyata itu hanya mimpi. Ah, memang nasibku. Aku dapat merasakan kehangatan hanya di dalam mimpi. Hanya dalam impian.

Pagi itu aku tidak pernah tahu akan terjadi sesuatu yang merupakan awal dari hidupku yang sesungguhnya. Hidup yang penuh kebahagiaan, hidup yang paling ‘hidup’.

Aku berangkat sekolah seperti biasa, hari ini ada ulangan Fisika. Guruku yang paling bikin be-te kemarin bilang, “Ulangan dari bab 1-3, OK anak-anak?” Huh, tapi aku sudah terbiasa belajar setiap hari, yah itu bukan masalah. “Teng! Teng! Teng!” bel sekolah pun berdentang, tanda jam fisika telah berakhir. Saat istirahat, aku hanya duduk di kelas. Aku bosan mendengar celoteh anak-anak kelasku tentang berbagai artis luar negeri, kaya’ Westlife, A1, Backstreet Boys, Limp Bizkit, dll. Mereka begitu mendewa-dewakan mereka. Sekian lama aku telah bersabar, tapi kali ini… “EH KALIAN! Kalian tuh apa gak pernah bosen ngomongin Westlife melulu. Yang ndengerin bosen tau!” Mereka yang kupanggil berbalik, “Emang napa? Itu bukan urusanmu. Lagipula siapa suruh ndengerin kami. Ya gak, friend?” ucap Lisa, salah satu dari mereka.

Aku marah. Baru kali ini ada yang berani melawanku. Aku kehilangan kesabaranku, “EH! Denger ya lu semua. Lu tuh tinggal di mana sih? Di Indonesia apa di luar negeri? Kalau lu tuh emang tinggal di sini, lu tuh mestinya malu, sayang. Masa yang didemenin cuma artis luar negeri doang. Lu gak pernah bangga ama negri sendiri apa!” ucapku emosi. “Lu-nya aja yang kampungan… Ha… Ha…” tawa Lisa cs. “Kalian nggak berhak ngetawain Viena. Dia bener lagi, memang kalian berarti nggak cinta ama Indonesia.” bela Farah. “Ya, aku setuju ama Farah en Viena. Mereka bener. Dan aku mendukung pernyataan Viena. Dan kalian mesti sadar siapa yang kampungan. Minta maaf sama Viena! AYO!” ucap Rio. Mereka semua terdiam apalagi Lisa cs. “Kalo Rio yang suruh apa boleh buat. Daripada kamu marah sama aku.” Lisa pun menggerakkan tangannya seraya mau meminta maaf padaku.

Aku terlanjur marah untuk memaafkan. Rio menatapku seakan ia menyuruhku untuk memaafkan Lisa. Entah mengapa seakan terhipnotis, aku mengatakan apa yang seharusnya tidak pernah aku katakan, “Ya udah, nggak apa-apa.” Aku syok, aku tak menyangka bahwa aku bisa mengatakan itu pada mereka. Farah mendatangiku. “Kamu hebat sekali. Aku salut sama kamu. Ternyata jiwa nasionalismemu tinggi.” Tatapan mata Farah memancarkan ketulusan yang amat sangat, belahan es dalam hati sedikit demi sedikit mulai mencair. “Farah, tadi terima kasih. Kamu mau membelaku, padahal aku selalu kasar padamu.” Ia menggenggam tanganku dan meneteskan air mata. Aku tersentak, aku tidak pernah menyangka akan ada orang yang menangis untukku. “Aku bahagia, karena Viena mau berteman denganku. Aku sungguh bahagia. Ia memelukku. Aku merasakan sesuatu yang sebelumnya pernah kurasakan, sesuatu yang hangat, sepert di dalam mimpi.…Impian yang selama ini hanya ada dalam angan, kini telah terwujud. Aku menemukan seseorang yang dapat mengerti aku.

Saat itu aku menyadari tatapan bahagia Rio melihat kami berdua telah bersahabat, matanya bahkan berkaca-kaca karenanya. Aku pun merasa bahagia karena aku telah memiliki sebuah permata, Farah adalah permataku yang paling berharga.

“Viena, nanti aku ama Farah mau ke mal beli kado buat nyokapku. Ikut ya!”tanya Rio. Kini aku mengerti arti mimpiku tentang bintang jatuh waktu itu, karena aku telah menggenggam keduanya di dalam tanganku. “Viena… Mau nggak?” Aku tersadar dari lamunanku. “Hmmm… ayo nanti langsung aja dari sekolah.” jawabku. “Lho? Kamu nggak bilang ama nyokapmu?” tanya Farah. Deg! Aku kaget. Aku tidak menyangka mereka akan menanyakan hal itu. Selama ini aku selalu mendengar kisah manis tentang keluarga mereka. Aku selalu mengelak kalau mereka bertanya tentang keluargaku. Sekarang apa yang seharusnya aku katakan? “Vi, kamu sakit?” tanya Farah cemas. “Nggak… Nggak apa-apa kok! Nyokapku pasti sedang sibuk.”. “Telepon HP-nya aja! Gimana juga dia kan nyokapmu.” Aku tidak bisa lari lagi. Akhirnya aku keluarkan HP-ku dan kupencet 10 nomer yang sekalipun belum pernah kuhubungi. 0811457286 “Ya, di sini mama. Ada apa?”tanya seorang wanita. “Ma, aku mau nemenin temenku ke mal. Dah!”ucapku. Tiba-tiba terdengar suara HP-Farah. Ternyata Farah ada janji sama nyokap. Akhirnya aku dan Rio berdua.

Hari itu hari Sabtu. Sepulang dari mal terdengar Adzan Maghrib menggema….‘Berarti udah jam enam’ pikirku. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Dan kami basah kuyup karenanya. Kami segera berlari menuju mobil Rio. Aku iri, soalnya Rio sudah bisa menyetir mobilnya. “Thanks ya Viena, kamu udah mau nemenin aku.” ucap Rio. “Sama-sama. Aku juga seneng kok.”.“ Eh, mampir dulu yuk ke rumahku. Rumahku kan deket ama rumahnya Farah. Lagipula lewat kok.” tambahnya. Aku menganggukkan kepala.

Rumah bercat putih, menyebar kehangatan ke seluruh tubuhku. Ruang tamu yang harum menambah nyaman perasaanku. “Kamu Viena kan! Rio suka cerita tentang kamu. Katanya kamu cantik. Ternyata bener lho!” ucap seorang wanita yang amat ramah, ia ibunya Rio. Wanita itu menyuguhkan segelas sirup dan sepiring kue. Di luar masih hujan deras, tapi aku merasa nyaman di sini, serasa memiliki keluarga sejati.

“Viena, gimana kalo kami nginep aja?”Aku kaget. ‘Nginep? Di rumah cowok? “Nanti kuanterin ke rumah Farah. Habis hujannya deres banget, bahaya.” Oh ternyata di rumahnya Farah. Kayaknya boleh juga tuh. Daripada di rumah be-te, aku pun mengiyakan.

Rio memayungiku menuju rumah Farah. Terlihat rumah bercat biru muda di ujung jalan. Tiba-tiba… “BLAAAR!!!” petir menyambar keras. Aku berteriak. Aku spontan berlari meninggalkan Rio. Aku takut… takut sekali. Aku terus berlari. Petir adalah kelemahanku. “VIENA!”panggil Rio. Ia mengejarku. Rio mengikutiku. Aku berhenti, kedinginan.“Viena… hoshhosh… Kamu jangan takut, aku ada di sini.” Aku yang gelisah serta merta memeluknya erat-erat. “Sudah, tenanglah. Kamu nggak usah khawatir lagi. Ayo kita mesti ke rumah Farah. Dia udah nungguin kita.” Aku melepaskan pelukanku. Aku malu sekali. “Ayo!” ucapnya. Ia menggandeng tanganku dan menggenggamnya erat-erat seakan ia menyuruhku agar tidak takut lagi. Sejenak aku merasakan kehangatan yang sama seperti kehangatan yang kurasakan dalam mimpiku, saat aku memeluknya… Deja-vu telah terjadi.

Saat ini aku berada di kamar Farah, kira-kira jam 9 malam. “Nak Viena, sudah bilang sama ibu, mau menginap di sini?” tanya ibunya Farah, Tante Fony. “Nggak perlu, tante.” jawabku.“Tapi bukankah di sana rumahmu?” tambahnya. Hatiku tergerak, kuambil HP-ku kuhubungi nomor telepon rumahku… 376890. “Ya, di sini rumah keluarga Hermawan. Mau bicara dengan siapa?”terdengar suara seorang ibu. “Ini Viena. Mama, kayaknya aku nginep di rumah temanku. Besok aku baru bisa pulang. Dah!” Hatiku tentram sekali.

“Vien, aku mau cerita sesuatu. Sebenarnya aku sudah lama suka ama…”.“Rio, kan!” potongku. Ia terbelalak. “Kok tahu?”tanyanya. Aku mengatakan bahwa semua itu dapat terlihat di matanya. Ia tersipu malu. Ia bercerita tentang kehidupan masa kecilnya bersama Rio. “Aku kenal Rio sejak kecil. Jadi dia itu temen kecilku. Dulu dia pendek sekali. Tapi sekarang tinggi banget. Dulu kita satu TK, SD, bahkan SMP-nya juga. Sekelas lagi. Aku bahagia banget. Aku udah janji ama diriku sendiri kalo nanti pas ulang tahunku yang ke-15 aku bakal bilang ke dia. Gimana?” Aku mengacungkan jempolku tanda setuju.

Aku tidak bisa tidur, aku tidak tahu apa yang membuatku begitu. Terngiang di telingaku cerita Farah tentang Rio. Itukah penyebabnya? Entahlah, tapi aku pernah merasa jika Rio ada semuanya tidak lagi penting. Benarkah apa yang kurasakan itu?

Aku mendengar kicauan burung, disambut wajah Farah yang tersenyum senang. Aku langsung terduduk. Ia mengatakan bahwa tidurku pulas sekali. Memang… semalam aku tidak bisa tidur, makanya aku jadi terlambat bangun. Setelah mandi kami sarapan. Kehangatan keluarga Farah membuatku merasa bagai seorang anak. Tante Fony dan Om Mamik amat perhatian pada Farah, juga padaku. Tiba-tiba Rio datang, mereka pun menyambutnya bagai keluarga sendiri. “Viena, mau pulang jam berapa? Ntar nyokap-bokap khawatir lho!” tanyanya. “Ayo!” aku pun pulang di antar Rio naik mobilnya. Saat aku mau berangkat, Farah ternyata pingin ke rumahku. Akhirnya Farah-Rio lah yang mengantarku.

Sesampainya di rumah, terdengar suara pertengkaran. Aku ingin menghindar, pergi dari semua itu. Begitulah yang terjadi setiap hari Minggu, maka dari itulah setiap Minggu aku pergi entah ke mana. Begitu juga dengan hari itu, aku ingin lari, tapi Farah mendorongku masuk untuk menyelesaikan pertengkaran. Rio juga mendukungku. Aku bagai dipenuhi keberanian, masuk ke dalam.

Setelah mendengar apa yang mereka pertengkarkan, aku menangis. Aku menghampiri mamaku, “Mama, aku tidak tahu, ternyata kalian mempertengkarkan aku. Kalian masih menyayangiku. Selama ini aku selalu menganggap kalian benci padaku.” Mamaku memandangku dengan mata berkaca-kaca, “Tidak, Vi. Kami amat menyayangimu. Kami memperdebatkan tentang siapa yang akan memperhatikanmu. Kami tahu kami sangat sibuk, mama pikir sebaiknya mama berhenti kerja saja.” Aku terharu, aku hampir lupa bahwa Farah dan Rio ada di depan rumah. “Ma, ada temanku di luar. Aku hampir lupa.” ucapku. Mama menyuruhku untuk mengajak mereka masuk. Tapi Farah dan Rio pamit mau pulang. Akhirnya mereka pulang, deh!

Setelah mereka pulang, aku memberi pengertian pada mama dan papaku tentang segala yang aku rasakan selama ini. Kami bicara dari hati ke hati. Dan aku bilang pada mereka bahwa tidak perlu berhenti kerja segala, bahwa aku tidak apa-apa. Itu semua berkat Rio dan Farah. Kehidupanku telah berubah, dari malam gelap menjadi pagi yang cerah. Matahariku bersinar di dalam hati. Aku merasa semua tak sama, semua berubah menjadi sesuatu yang indah.

Tiga bulan lagi EBTANAS, aku harus berjuang untuk itu. Hari-hariku penuh warna, bersama Farah tentunya. Minggu depan ulang tahun Farah, aku dan Rio berniat memberikan sebuah kalung bertuliskan namanya. Maka hari ini kami pulang sekolah pergi ke tukang emas naik TIGER-nya Rio. Asyik sekali. Setelah berputar-putar, akhirnya kami temukan orang yang tepat. Ternyata harganya pas sekali seperti yang kami bayangkan. Kami pun langsung memesannya. Katanya bakal lima hari jadi. Aku berharap Farah akan senang menerimanya.

Waktu terus berjalan. Hari ini adalah hari pengambilan kalung itu. Aku tidak bisa menemani Rio karena ada les Ballet sore ini. Jadi dia pergi sendiri. Setelah membayarkan uangnya pada tukang emas itu, ia memasukkan kalung itu ke tasnya. Sebelum pulang, tak disangka-sangka penyakit jantung yang dulu dideritanya kambuh. Ia terjatuh dari motornya.

“Nguing! Nguing!”suara ambulan menuju R.S. Sardjito. “Kriiiing!”suara telepon berdering. “Hallo, ini rumah Viena. Ini Tante Fony, Rio… Rio… kecelakaan.” Aku kaget, telepon kujatuhkan. “Mama, Rio kecelakaan…” Aku segera memanggil Pak Bono dan mengajaknya ke R.S. Sardjito. Di sana aku melihat Rio pingsan. Aku bersyukur ia tidak apa-apa. Aku duduk di sampingnya, saat itu di kamar itu hanya kami berdua. Aku memegang tangannya, aku tertunduk sedih. “Viena, untung kalungnya tidak apa-apa.” Aku terkesiap. Ia menunjuk tasnya, aku mengambil bungkusan kalung yang masih baru dan tidak kurang suatu apa. Aku mengangguk. Ia mengenggam tanganku, tatapan matanya menusuk hatiku. Ia mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu aku dengar. “Vien, kamu tahu kan, aku dan Farah hanya teman. Mungkin keluarga. Aku menganggapnya adik sendiri.” ‘Untuk apa kau katakan ini. Jangan berkata begitu. Aku tidak bisa.’ “Aku sudah lama menyukaimu.”ujarnya. Aku tak mengerti mengapa aku mengatakan bahwa aku juga amat menyayanginya, padahal aku tahu Farah juga merasakan hal yang sama. Ia berusaha duduk dan memelukku erat. Aku bahagia sekali. Amat bahagia.

Terdengar gelas pecah,“Prang!” Aku kaget. Rio melepaskan pelukannya, aku keluar dan melihat sosok Farah berlari keluar rumah sakit. Aku mengejarnya. Aku merasa ia mendengar semuanya. Aku melihatnya berdiri di seberang jalan. Aku berlari. Tiba-tiba sebuang Kijang berada di depanku. “VIENA, AWAS!!!” Ia mendorongku, aku terjatuh.

Aku terbangun di ruangan putih berbau rumah sakit. Aku baru ingat, “FARAH!” aku segera berlari. Tante Fony berada di depan ruang ICU. Rio pun ada di sana dengan kursi roda. Aku mendekatinya. “Ia pasti selamat.” katanya. Aku gugup, ini salahku. Jika saja ini tak terjadi… “Apa ada yang bernama Viena dan Rio. Pasien memanggil.” Aku dan Rio bergegas mendekati dokter. Kami masuk ke ruangan, terlihat wajah Farah pucat. “Vi…ena…Ini bukan sa…lah…siap..pa…pun. A…ku…meres…tu…i…ka…lian. Ka…lian…so…hib…ku.” Aku menyerahkan kalung itu padanya. Aku menangis sedih. “Th…thanks” tangan Farah tergeletak. Ia telah tiada… “TIDAAAAAK !!!”

Aku depresi, beberapa hari aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku terlampau sedih untuk berpikir, sampai hari itu.… Rio telah sehat kembali, ia mengunjungiku. Melihat keadaanku ia amat prihatin. Tatapanku yang kosong membuatnya sedih. Ia memegang tanganku dan memberikan kalung ‘Farah’. Aku menangis kembali. Rio berkata, “Kalau mau menangis, menangislah. Tapi besok kembalilah seperti dulu.” Aku menangis di pundaknya, tangisan terakhir….

Terdengar mamaku berteriak membangunkanku… Ternyata mimpi….Tapi mimpi semalam adalah kisahku dan Farah. “Tin! Tin!” klakson mobil Rio telah berbunyi. Aku segera mandi dan berpakaian. Rio bercakap-cakap dengan ayahku sementara aku sarapan. “Viena, terlambat nih!” ucapnya. “Iya… Eh ada yang ketinggalan.” Aku segera berlari ke kamarku, kuambil kalung itu, kalung yang seharusnya menjadi hadiah untuk Farah. Aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi agar aku dapat merasakan bahwa Farah ada di sampingku. “Cepaaat!” Aku berlari menuruni tangga. Menuju Rio, orang yang paling aku sayangi. “Nanti pulang sekolah jadi kan !” tanyaku. “Beres.” Aku dan Rio tidak pernah melupakanmu, Farah. Aku hidup dengan jiwa yang diberikan olehmu, karenamulah aku masih bisa bersama dengan Rio hingga saat ini. And the very important thing is forgive me…

copyright(c)LuzvimindaSetyawan

any use without permission is prohibited

[arthyarchie@yahoo.com] [siti.luzviminda@gmail.com]

Leave a Reply