Pada suatu hari yang cerah .… “La… La… La… Everything that happen in my live…It’s just for you my love… Because of Melody of Tomorrow… Mmmmm …” nyanyi Releena. “Plok ! Plok !” terdengar suara tepukan. “Ayah ! Mengapa bertepuk seperti itu. Aku kan jadi malu.”. “Anakku… mengapa kau tak mencoba sayembara yang diadakan di kerajaan itu ?”. “Yah, aku merasa tidak pantas. Suaraku kan tidak merdu .” ucap Releena. “Jangan begitu… Suaramu adalah suara emas anakku. Tidak tahukah kau, banyak orang iri akan suaramu. Saat kau bernyanyi seisi hutan serasa ikut bergoyang.”. “Baiklah aku akan mendaftar hari ini. Doakan ya Yah !”.
Releena pun berangkat ke Mestiza dengan riang gembira. Memang benar, di Mestiza ada sebuah sayembara. Yaitu sayembara menyanyi, barangsiapa dapat memenangkan sayembara itu bagi lima finalisnya akan berkesempatan menjadi calon permaisuri. “Nama? Asal? ” tanya prajurit istana. “Releena… Jungle of Meeroune .” jawab Releena. “Sayembara diadakan minggu depan. Bawa kertas ini untuk bukti. Selanjutnya!” Setelah mengucap terima kasih, Releena langsung menuju hutan untuk latihan.
“Mmmm… Melody of Tomorrow…” . Tiba-tiba, “Shrek! Gluduk!” Releena kaget sekali melihat sosok seorang peri mungil. Peri itu ketakutan dan bingung. “Hik…Hik… Huaaa!” peri itu menangis. “Ah , jangan takut aku tidak akan jahat padamu. Mari kemari kalau kau terluka akan kuobati.” Perlahan-lahan peri itu mendekati Releena. “Hik…Hik…” Setelah diperiksa ternyata sayapnya terluka dan patah. “Harus diobati. Tahan ya …” Peri kecil itu mengangguk. “Huaaaa!” teriak peri kecil itu kesakitan. “Maaf. Oh ya namamu siapa ?” tanya Releena. “Frienea… hik…hik…”. “Wah imut sekali. Aku Releena Scarfa dari Meeroune.” ucapnya. Releena tidak tahu pertemuannya dengan Frienea adalah awal petualangannya yang amat fantastis, dan sejak saat itu mereka bersahabat.
Hari ini adalah hari kelima sebelum sayembara. Seperti biasa Releena pergi ke hutan untuk latihan, namun sekarang ia ditemani sahabatnya, Frienea. Saat itu terdengar suara orang berlari…. “KEJAR! Jangan sampai lolos!” Dan tiba-tiba seorang pemuda berlari ke arah Releena, dan… “Bruk!!!” ia menabrak Releena. “Maaf nona, bisakah kau menolongku. Orang-orang itu ingin membunuhku.” . “Apa? Kejam sekali, tapi apa yang sebenarnya kamu lakukan? Tapi baiklah. Sembunyi saja di balik pohon itu.” ucap Releena. Terlihat sosok prajurit-prajurit Mestiza. Mereka terengah-engah dan basah karena keringat. Sosok yang kejam, sadis dan seram. “Nona, Tadi ada seorang pemuda berlari. Tidakkah anda melihatnya. Haacchi!” Ternyata prajurit itu tidak segalak penampilannya. “Maaf saya tidak tahu.” Mereka pun meninggalkan Releena dan Frienea.
“Sudah aman.” ucap Releena. Pemuda itu pun keluar dari persembunyiannya. Sementara itu Frienea masih tetap berpikir karena dia merasa mengetahui sesuatu. Setelah melihat jubah pemuda itu ia sadar ia berhadapan dengan siapa. “Pi… Pi… Tu… Kamu pasti….” . “ Ssstt, please diam. Aku ingin bisa berteman dengan Releena apa adanya.” ucap pemuda itu. “Bicara apa kalian? Oh ya namamu siapa?” tanya Releena. “Namaku Zextrouva. Dari Cormon. Kamu pasti Releena kan! Aku suka suaramu.” Releena tersipu malu. “Jangan memuji begitu. Oh ya ini Frienea.” Mereka pun langsung akrab. Hal ini membuat Frienea kesal.
“Kudengar kau ikut sayembara Mestiza. Aku yakin kau pasti menang.”.“Terima kasih. Oh ya ada urusan apa kau sampai ke sini?”tanya Releena. “Aku teman Dexfrad, pangerannya Mestiza. Waktu aku sampai di sana aku dikira penyusup makanya aku dikejar-kejar.” Frienea kesal sekali. Dia pun pergi meninggalkan mereka dan Releena tidak menyadarinya. “Oh begitu. Memang ada urusan penting ya, jauh-jauh dari Cormon?”.“Ya. Aku mencari seorang gadis.” jawab Zex. “Siapa? Mungkin aku tahu.”tanya Releena lagi. “Mau tahu siapa? Namanya Releena.”
Saat itu jantung Releena berdetak. Bagaimana tidak, seorang pemuda tampan tengah mencarinya. Selama ini hal itu belum pernah dirasakannya. “Bagaimana kau tahu tentang aku? Padahal saat ini saat pertamanya pertemuan kita.”ucap Releena. “Kau memang tidak tahu tetapi…” Saat itu Releena sadar bahwa dia telah cuek pada Frienea. “Maaf tapi Frienea tidak ada. Kurasa dia marah. Aku harus pulang.”.“Kapan kita bisa bertemu lagi?”tanya Zex. Releena terkesiap, dengan malu-malu dia menjawab, “Besok di tempat ini.” Releena pun berlari pulang dengan perasaan tak menentu.
“Kau tak tahu Releena, aku selalu melihatmu di hutan ini. Saat kau menyanyi dengan indahnya. Di Mestiza aku kesepian. Saat aku mendengar sebuah lagu…The song from the jungle, begitulah aku menyebutnya… Sejak kecil aku selalu memperhatikan nyanyianmu. Sampai saat ini aku tidak pernah bisa lupa akan lagu itu. Lagu yang selalu kau nyanyikan… Melody of Tomorrow. Dan sejak saat itu pula kau ada di hatiku.…”ucap pemuda itu yang tak lain tak bukan adalah Dexfrad. “Pangeran! Akhirnya kami temukan. Mari pulang! Raja dan Ratu telah menunggu.”.“Baiklah.” Saat ia berjalan pulang. Tatapannya terasa jauh menuju Meeroune .
Esoknya… “Frienea. Maukah kau menemaniku di hutan.”tanya Releena.Frienea yang masih kesal, diam saja. “Aku tahu kau masih marah. Tapi … ini yang pertama.”.“Yang pertama, apa maksudmu? Pi… Pi… Tu…”sambung Frienea. “Ah… aku juga tidak tahu. Tapi ada suatu perasaan yang mendorongku untuk bertemu orang itu.”.“Zex?”.“Mungkin…”jawab Releena. “Baiklah. Tapi jangan lupakan aku. OK ?”.“OK !” ucap Releena senang.
Sesampainya di hutan ternyata Zex sudah datang. Ia membawa sekeranjang roti. “Zex, untuk apa itu semua?” tanya Releena. “Aku akan membawamu ke suatu tempat. Pasti kamu suka.” Zex melihat reaksi tak senang Frienea. “Tentu Frienea juga.” Frienea kaget tapi senang. “ Ke mana?” tanya Releena lagi. “Kalau kuberi tahu bukan kejutan dong!” Zex menggandeng tangan Releena dan mengajaknya berlari ke tengah hutan, sedang Frienea terbang di belakang mereka. Sampailah mereka di suatu tempat yang amat indah. Releena amat takjub melihat tempat itu. Bayangkan! Ada sungai mengalir, ada gubuk kecil yang indah, ada taman dengan berbagai macam bunga, banyak burung berkicau riang, kupu-kupu, dan yang lebih mengejutkan didalam gubuk itu terdapat berbagai alat musik. Ada piano, gitar dan harpa. Releena pun menyanyi diiringi oleh Zex. Frienea yang sedang bergembira menyihir alat-alat musik itu agar bergerak sendiri, “Valt !” Akhirnya Releena dan Zex pun berdansa.
Saat hari mulai siang, mereka makan sambil bercakap-cakap. “Releena,seandainya kamu memenangkan sayembara itu dan terpilih menjadi permaisuri. Apa yang akan kamu lakukan?”tanya Zex. Releena kaget, ia hampir lupa tentang sayembara itu. “Karena… karena… aku…” Zex mengambil tangan Releena, meletakkan di dadanya kemudian diciumnya tangan Releena ‘I love you’. Releena pun melakukan hal yang sama. Ternyata mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Releena bahagia sekali. “Pi… Pi… Tu… Frienea senang kalian bersama. Senang sekali…” Ucapan Frienea membuat mereka terharu. “Releena, apa jawaban pertanyaan tadi.” Zex menatap tajam mata Releena. “Aku akan tetap ikut sayembara itu, karena ayah amat mengharapkannya. Tapi kalau menjadi permaisuri , aku akan menolaknya dengan halus. Karena di hatiku ada orang lain. Namun, apabila itu mengakibatkan kekerasan pada keluargaku. Maka dengan ikhlas aku akan menjadi permaisuri.”
Jawaban Releena membuat Zex bangga. Ia sadar gadis yang berada di hadapannya ini bukan gadis sembarangan, tapi seseorang yang spesial. “Zex? Kok diam.” tanya Releena. “Tidak. Aku berpikir bahwa yang kau katakan sungguh bijaksana”. Karena hari mulai sore, Zex mengantarkan Releena dan Frienea ke pinggir hutan. Dan mereka berpisah. Namun hati mereka telah bersatu. Kau tahu apa yang mempertemukan mereka ? Melody of Tomorrow….
Hari ini hari kedua menjelang sayembara, seperti biasanya Releena berlatih menyanyi ditemani Zex dan Frienea ‘“Kok namaku belakangan sih” ucap Frienea’ Mereka berlatih dengan gembira. Releena merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi saat itu. Maka ia meminta Zex untuk segera pulang, agar tidak terjadi apa-apa padanya.“Sampai ketemu besok ya.”ucap Zex. Setelah mereka berpisah, feeling Releena makin tidak enak ia merasa sesuatu yang benar-benar buruk akan terjadi sebentar lagi. Saat dia berpikir, ternyata Frienea sudah tidak ada di sampingnya lagi. Dia pun berlari mencarinya. Tiba-tiba… “Pengkhianat! Terimalah hukumannya!”. “Pi… Pi… Tu… Maaf Tuan Azecmoile. Saya tidak tahu tentang itu.” Mendengar suara Frienea yang ketakutan, Releena sesegera mungkin berlari ke arah suara tersebut. “FRIENEA!!!” teriak Releena. “Pi…Pi…Tu… Releena?”. “Nuizx… Jadi kau yang mempengaruhi Frienea. Nuizx… Maka terimalah hukumanmu Frienea. Biar gadis ini melihat kehancuranmu. Nuizx… Espenial!!!”.“Aaaakhh!” Kejadian ini terjadi begitu cepat sehingga tidak ada yang menyadari kecuali… “RELEENA! Pi… Pi… Tu… Kau baik-baik saja?”.“Nuizx… Huh lain kali habislah kau!”. “Krrrw…Krrrrw….”.“ Pi…Pi… Tu… Releena suaramu! Mengapa? Apa yang terjadi? Hik… Hik….”isak Frienea. “TIDAK! Ini salahku sehingga suaramu jadi begini. Tidaaak!!! Pi… Pi… Tu!”.
Frienea amat sedih, besok adalah sayembara itu. Dan dia menyebabkan Releena tidak bisa menyanyi lagi. Dia bingung dan merasa bersalah. Akhirnya dia tahu apa yang harus dilakukannya. Frienea terbang amat cepat… melesat layaknya peluru menuju Zex, menuju Dexfrad di Mestiza. “APA!!! Berarti saat ini dia sedih dan kesepian. Frienea temani aku ke sana ya? Aku ingin menemaninya di saat-saat seperti ini.” Frienea mengangguk. Mereka pun segera berlari menuju Meeroune. Tak lama kemudian…. “Oh Releena ,tampaknya dia sedang bermain di kebun arbei. Cari saja di sana, nak…. Rasanya aku belum pernah melihatmu sebelumnya, tapi aku merasa sudah pernah mengenalmu di suatu tempat.” duga Koulz Scarfa. “Ah mungkin de-javu, koulz.” ucap Zex.
Di kebun arbei, Zex melihat Releena menangis. Frienea merasa amat sangat bersalah karena telah membuat Releena bersedih. “Releena….” panggil Zex. Releena diam, ia tak ingin membuat Zex kecewa dengan suaranya yang serak. “Releena…. Aku sudah dengar semuanya dari Frienea. Yang harus kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena suaramu yang serak, tapi aku tahu kau akan meninggalkanku setelah tahu yang satu ini. Aku sebenarnya adalah Dexfrad. Maaf Releena.” Releena yang mendengar hal itu kembali menangis. “Sampai kapan pun aku akan selalu menyukaimu dengan sepenuh hati. Kau selalu di hatiku. Percayalah Relenaa.” Releena berlari menuju hutan, terus berlari. Suara Zex makin tersamar, dan akhirnya menghilang ditelan hutan.
“RELENA! Tungguu! Pi… Pi… Tu… Aaakh!” teriak Frienea. Relena berbalik dan menghampiri Frienea. “Krrrw…” Frienea menangis karena ia tidak bisa memahami perkataan Releena. Secara tak sengaja ia melihat sebuah tumbuhan ajaib, yang dulu dipelajarinya, tumbuhan itu adalah Panop. Panop tumbuhan yang dapat membuat orang yang memakannya mempunyai kekuatan telepati, telekinesis dan teleport. Caranya dengan memisahkan daun hijau untuk teleportasi (grenop), daun coklat muda untuk telekinesis dan daun coklat tua (danop), untuk telepati (brinop), Ditumbuk dan kemudian dimakan. Khusus untuk telepati, daunnya ditumbuk lalu dibagi dua sama rata, dan dimakan oleh dua orang yang ingin memiliki hubungan batin.
Frienea segera meramu daun itu agar dapat menolong Releena. “Releena, kita bisa ngobrol lagi.” Releena percaya pada sahabatnya tersebut. Ia pun mengangguk. Setelah beberapa lama, ramuan itu telah siap. Ramuan grenop dan danop, serta setengah ramuan brinop ia minumkan pada Releena. Ia sendiri hanya meminum setengah ramuan brinop lainnya. Sehingga akhirnya Releena dan Frienea dapat berkomunikasi. “Releena, mengapa kau meninggalkan Zex setelah tahu kalau dia Dexfrad? Pi… Pi… Tu…”tanya Frienea.‘Bukan maksudku meninggalkannya. Aku senang sekali dia adalah Dexfrad, tapi aku tidak mau membuat ia malu. Bagaimana tanggapan warga Mestiza kalau tahu calon permaisurinya seorang gadis bisu. Aku tak ingin ia kecewa, Frienea. Karena aku amat menyayanginya.’
“Releena. Aku tahu cara mengembalikan suara emasmu, kau harus mendapatkan The Twin Masks milik Azecmoile. Dan aku akan mendampingimu. Sekarang kau mempunyai kekuatan teleportasi, telekinesis dan telepati. Jadi setidaknya kekuatan itu akan membantumu melawan anak buah Azecmoile.”.‘Baiklah aku akan terus berjuang. Mendapat benda itu dan kembali kepada Zex.’ Releena dan Frienea pun memulai petualangan mereka mencari sarang Azecmoile.
Sementara itu di tempat Dexfrad or lebih baik kita panggil Dex. “Releena, mengapa kau pergi?” gumam Dex. Tiba-tiba seorang wanita mendekatinya, “Anakku, besok sayembaranya akan dilangsungkan. Kuharap kau akan senang.” Ternyata wanita itu adalah Messa, sang ibunda. Dex mengatakan pada ibunya agar membatalkan sayembara itu karena ia telah menemukan belahan hatinya. “Namun… sesuatu terjadi padanya sehingga ia harus pergi untuk sementara. Ibunda sebenarnya aku ingin mencarinya, sehingga bisa melindunginya dari bahaya…”ucap Dex kemudian. Seorang ibu tentu mengerti perasaan anaknya. “APA YANG KAU KATAKAN!!! PELAYAAAN!!!”teriak ibunya. Dex tahu ibunya kecewa. “Ibu… kalau begitu tidak apa-apa… i…”. “Pelayan siapkan perbekalan untuk perjalanan pangeran.” ucap ibunya. “Terima kasih bu.” Dex terharu. Mereka kemudian berpelukan. “Hati-hati ya nak, temukan dia dan bawa ke sini. Ibu akan sangat merindukanmu.”
Perjalanan pun dimulai… Dex berbekal sebilah pedang warisan keluarga,beserta kuda putihnya, Holy, menuju Jungle of Meeroune. Holy meringkik tanda senang. Sampai di sana, Dex menemui Koulz dan menceritakan apa yang terjadi antara dia dan puterinya, Releena. Awalnya sang ayah hendak marah, tetapi melihat kesungguhan di mata Dex, Koulz kemudian menyemangati Dex, “Aku percaya padamu nak. Melihat kesungguhan dan rasa sayangmu padanya… akan kupasrahkan Releena padamu. Aku percaya kau akan membawanya kembali. Aku di sini akan selalu berdoa untuk kalian semua.”.“Terima kasih, Koulz, Aku tidak akan mengecewakanmu. Percayalah padaku.” Mereka berjabat tangan, sebagai simbol saling percaya. Setelah itu Dex menuju utara untuk memulai perjalanannya mencari belahan hatinya, Releena.
Sesaat hati Releena berdegup kencang, ia merasa seseorang tengah memikirkannya begitu dalam. Ia mengenang saat-saat indah bersama Zex. Ia yakin suatu saat saat-saat yang lebih indah akan terjadi. “Pi… Pi… Tu… Bagaimana kalau kita istirahat dulu?” Akh.. Releena tersadar dari lamunannya… ‘Ya, ehm istirahat? OK. Tapi kita tidak punya makanan, atau minuman.’. “Itu gampang, serahkan padaku. Kamu tunggu di sini jangan ke mana-mana.” Releena mengangguk.
“Aaaaaakh!” teriakan Frienea membuat Releena kaget. Ia pun berlari menuju Frienea. ‘Frienea apa yang terjadi?’.‘Ada monster aku takut. Cepatlah kemari. Itu pasti anak buah Azecmoile. Tolooong!’ Dengan mengikuti instingnya Releena terus berlari. Sampai… Ia kaget sesuatu yang begitu besar dan menjijikkan ada di depannya atau lebih tepat kalau di depan Frienea. ‘Frienea apa itu …’ Snifff…. Benda itu membaui mereka. Ia besar, berlendir, berduri, berwarna coklat, yuck! Panjang dan berbulu. Hiiii! Pokoknya tak dapat didefinisikan. Frienea berteriak,“Aaaaaaaaa !!!”.‘Tenang aku punya kekuatan…’ Releena mengkonsentrasikan pikirannya pada benda itu, ia berpikir keras.Dalam hatinya ia berkata,‘Pergilah! Menjauh! Hilanglah! Jangan Kembali!’berulang ulang. “Syuuuu…!!!” Ajaib! Tiba tiba benda itu melayang seperti terlempar dan menghilang.
Releena yang baru pertama kali melakukannya kaget sekali, tapi dia senang bisa menyelamatkan temannya. Karena walau Frienea hebat, ia itu penakut, maka wajarlah kalau ia tidak bisa berbuat apa-apa. ‘Kau tidak apa-apa Frienea?’’Ia mengangguk. Setelah semuanya tenang, mereka pun bercakap-cakap.“Releena, rindukah kau pada Zex ? Pi… Pi… Tu…”tanya Frienea. ‘Sangat. Walaupun baru sehari kita tidak bertemu, rasanya sudah lama sekali kita tidak berjumpa.’ Releena sedih sekali mengingat berapa lama lagi harus berpisah dengan Zex. “Releena, bukankah sekarang kau punya kekuatan? Pi… Pi… Tu… Dan bukankah ada aku di sini?” ucap Frienea. ‘Iya. Kau benar aku tidak sendirian. Aku punya kau, dan aku punya kekuatan. Kemari Frienea…’Releena memeluk Frienea erat-erat.
Releena terus berjalan hingga sampai di sebuah desa. Desa itu bernama Vista. Ia terus berjalan dan berhenti di sebuah penginapan. Karena hari hampir malam, ia memutuskan untuk menginap semalam. “Kukuruyuuuk !!!” Zex terbangun. “Holy sudah pagi, kita harus melanjutkan perjalanan.” Holy meringkik tanda setuju. “Hiya!!!” Merekapun berjalan menuju utara. Di tengah jalan mereka menemukan sesuatu yang berlendir dan panjang. Ternyata yang mereka temukan adalah hewan yang dulu mengganggu Frienea. “Frienea hancurkan! Bunuh Releena!” Mendengar kalimat tersebut, Zex langsung naik darah. Ia buru-buru mencabut pedangnya untuk menghabisi makhluk yang menjijikkan itu. Holy meringkik keras, Zex merasa Holy menyuruhnya menghentikan perbuatannya. Ia mengerti sekarang bukan saatnya membunuh. Ia bertanya pada makhluk itu di mana Releenam,“Di dekat Vista.” Ia pun bergegas menuju Vista.
Sementara itu di tempat Azecmoile…. “Nuizx…Ah, selalu gagal. Mengapa? Nuizx…”.“ Hei! Nuizx… ada seseorang yang berhubungan dengan penghianat itu. Oh… seorang pangeran rupanya… Nuizx Ho…ho…ho… Beruntung sekali. Kurasa dia bisa kugunakan. Nuizx.”
Zex telah berjalan kurang lebih setengah hari. Dan tak lama lagi ia akan sampai di Vista. Namun tiba-tiba raut mukanya menjadi amat gembira, kau tahu mengapa? Karena Releena ada di depan matanya, tepat di depannya. “RELEENA!!!” teriak Zex. Ia langsung turun dari kudanya dan menyongsong Releena. “Untung kau baik-baik saja. Aku khawatir sekali.” ucap Zex, lalu ia memeluk Releena. “Aku tidak apa-apa.” ucap Releena. Anehnya… Holy selalu gelisah, tidak mau diam. Zex yang terlalu bahagia tidak megetahuinya. “Releena, maukah kau menjadi istriku?” ucap Zex akhirnya. “Aku? Oh aku akan sangat senang sekali Dexfrad.”jawab Releena. Zex kaget sekali mendengar kata Releena. “Hei, tunggu! Releena selalu memanggilku Zex. Oh ya, lagipula di mana Frienea? Bukankah ia seharusnya bersamamu Releena palsu!!!”ucap Zex marah… marah sekali….
Releena berusaha meyakinkan Zex kalau ia adalah Releena. “Kalau begitu buktikan!!! Bukankah Releena itu tidak bisa bicara? Bagaimana mungkin kau bisa bicara? Seandainya Releena bisa bicara dan memang Frienea diculik, coba kau nyanyikan lagu kesukaanmu yang selalu kau nyanyikan untukku!!!” ucap Zex tegas. Releena pun menyanyikan Melody of Tomorrow dengan indahnya. Ia kecewa pada dirinya karena tidak mempercayai Releena. “Maafkan aku Releena, maaf. Aku sebenarnya tidak ingin melukai hatimu.” Zex lalu mencium tangan Releena sebagai tanda maaf, bahwa ia sungguh menyesal… amat menyesal….
Hei! Holy kembali meringkik keras setelah Zex menaikkan Releena ke atasnya. “Holy… tenang! Ini Releena-ku yang kita cari. Maka dari itu aku mohon. Jangan buat ia takut.”ucap Zex. Holy kambali tenang, tetapi wajahnya menampakkan kegelisahan yang amat sangat. “Hiya!! Mari Holy, kita cari Frienea. Pegang aku erat-erat Releena, aku janji kita akan segera menemukan temanmu.”
“Pi… Pi… Tu… Wah… pagi ini cerah ya.” Lho? Bukankah itu suara Frienea. ‘Iya, benar. Mungkin kita lebih baik belanja keperluan kita pagi ini. Lalu kita lanjutkan perjalanan kita.’.“Ok, Ayo Releena!” Relena? Kalau begitu siapakah Releena yang bersama Zex? Mungkin sebentar lagi kita akan tahu. Sementara itu di tempat Azecmoile… “Ho…Ho…Ho…Nuizx Ternyata pangeran bodoh itu mudah sekali ditipu. Matanya telah dibutakan oleh cinta. Nuizx… Persetan dengan cinta!!! Semoga Deva sang Releena palsu dapat memainkan perannya dengan baik… Ho… ho… ho… Sampai saatnya ia akan membunuh Releena yang amat ia cintai itu. Nuizx…”
‘Frienea, aku sudah dapatkan yang kita butuhkan dalam perjalanan ke kota selanjutnya.Ayo kita siap-siap berangkat!’.“Aku siap… Pi… Pi… Tu…” Mereka pun sesegera mungkin berangkat ke kota berikutnya, Polybourd. Polybourd amat terkenal dengan sebutan The Great Sand ‘Frienea, kapankah aku bisa bertemu lagi dengan Zex? Aku mempunyai firasat bahwa aku tidak akan bertemu dengannya lagi….’ tanya Releena penuh perasaan ‘Kapan aku bisa bertemu ayah?’. “Releena… Pi… Pi… Tu… Jangan sedih begitu, sebentar lagi kita akan sampai di sarang Azecmoile dan aku yakin kita bisa mendapatkan The Twin Mask itu walau nanti aku harus menyumbang nyawaku untuk itu.” jawab Frienea. Releena terharu mendengarnya.
Namun, saat itu bukan saat untuk terharu-haru, saat itu adalah saat mereka harus berjuang demi apa yang mereka perjuangkan, Time for Struggle. Mereka tidak tahu sesuatu yang buruk akan segera datang ke hadapan mereka. “Nuizx… Semoga Deva telah menjalankan rencana Devoss. Rencana kehancuran The Betrayal Frienea. Ho… ho… ho… Serta puteri emas itu, Nuizx… Releena Scarfa.” Di hutan yang tidak bernama…. “Zex sayang, sudah lama sekali aku ingin bersamamu seperti ini, aku pikir sekarang saatnya untuk… DEVOSS !!!” Holy meringkik. Oh tidak! GAWAT! Zex tidak sadar, dengan melihat tatapan matanya, kita bisa tahu bahwa dia bukan lagi dia…. Tapi dia yang lain, dia yang tak berjiwa. Tiba-tiba dengan nafsu memburu, ditariknya kekang Holy. Ia menunggang kudanya bagai iblis. Holy berusaha mengelak, tapi suatu kekuatan melarangnya. Aneh, mata Zex berkaca-kaca. Seakan ia tidak mau itu terjadi, apa yang akan dilakukan dirinya…Teert! Suatu perasaan menghampiri dada Releena. Apakah begitu besar cinta Zex, sehingga Releena bisa merasakannya? Releena terhenti, dadanya sesak. Ia merasakan sesuatu yang… ia sendiri tidak tahu.‘Aku merasa sesuatu yang amat fatal terjadi pada Zex. Aku khawatir. Frienea, Bisakah kita bermalam di sini?’ Frienea amat mengerti perasaan sahabatnya yang amat peka itu. Maka mereka memutuskan bermalam di tengah perjalanan menuju Polybourd.
Derap kuda terdengar amat keras, Releena yang sejak semalam tidak bisa tidur, terkejut. Dilihatnya sebuah sosok yang amat dirindukannya, bersama… seorang wanita? Wajahnya, Frienea kaget sekali melihat apa yang dia lihat. ‘Zex? Mengapa dia bersamaku? Bukankah itu wajahku? Siapa dia?’ Releena bingung? Perasaan rindunya berubah menjadi kecewa setelah… “FRIENEA! BERSIAPLAH MENUJU KEHANCURANMU! KAU JUGA Fuck Girl!!!” ucap Zex lantang. “Hu… hu… Re-Lee-Na. Kau tahu kekasih hatimu ini menjadi budakku, budak Yang Mulia Azecmoile. Kalau kau mau selamat, bunuh dia, bunuh belahan hatimu. BUNUH!!!” ucap wanita berwajah Releena itu dengan sinis.
‘TIDAK! Aku percaya pada Zex, dia pasti akan kembali padaku. Karena kami saling mempercayai. Aku tahu kamu tidak akan bisa memisahkan kami, Dasar PECUNDANG!!!’ Suara hati Releena ternyata dapat terdengar oleh wanita penyihir itu. “Kita lihat saja nanti. Hu… hu… hu… Zex sayang, CEPAT BUNUH KEDUA MAKHLUK ITU!!!” Zex dengan mata masih berkaca-kaca mulai mengayunkan pedangnya, “Syaaat! Syaat!” Releena menghindar, Frienea tidak mau menyerang. Releena dapat merasakan bahwa itu bukan Zex yang sebenarnya. Mereka berdua berlari, akhirnya Releena menemukan cara, ‘TELEPORT!’’Mereka berpindah, mereka sampai di gurun pasir yang amat luas, di Polybourd. Sebelum ia melakukannya ia mendengar wanita itu berkata, “Kalian, tidak akan bisa sembunyi… hu… hu… hu…” Namun saat ini mereka tidak akan bisa sembunyi, Releena terlalu lelah untuk bergerak, mereka semua pingsan.
Releena terbangun, ia memandang gurun yang luas itu, dan ia melihat sosok… sosok… ZEX! Dia ikut teleport. Bagaimana keadaannya? Aku harus ke sana.’ Releena berjalan terseok-seok menuju Zex yang tergeletak. ‘Zex,apa yang terjadi padamu? Mengapa kau ingin membunuhku? Padahal aku begitu…begitu…’ suara hati Releena dipecah oleh suara Zex, “Releena… Mengapa kau pergi? Aku selalu men…” Releena langsung memeluk pemuda itu. “Releena? Kaukah itu? Di manakah kita, mengapa gelap sekali?” Deg! Releena amat kaget. “Pi… Pi… Tu… Releena tampaknya Zex terkena sihir Azecmoile, ia buta.…” Hati Releena hancur mendengar pernyataan Frienea, ia telah menyeret orang yang disayanginya menuju kegelapan, ia menangis. “Releena, jangan takut kita pasti bisa kembali.”ucap Zex penuh pengertian.
“Hu…hu… hu… Zex sayang ternyata cintamu itu telah menghilangkan sihirku. Namun, tampaknya itu berdampak buruk pada penglihatanmu, sayang.”ucap wanita penyihir itu. Ternyata dengan mudahnya ia dapat menemukan mereka bertiga. “Oh tidak! Aku buta, bagaimana aku melindungimu Releena? Bila mataku tidak dapat melihat wajahmu?” Releena amat sedih melihatnya, ‘Frienea, bantulah aku untuk berbicara pada Zex. Ini pertempuran terakhir, katakan padanya “Matanya adalah mataku, suaranya adalah suaraku, hidupnya adalah hidupku, ia adalah aku. Aku menyukainya dengan segenap jiwaku, setelah ini selesai kita bisa bersama lagi menyanyi di hutan kita HUTAN MIMPI” Tolong Frienea.’. “Tidak perlu Releena, Ia sudah mendengarnya, Ia mendengar suara hatimu. Lihatlah dia Releena, lihatlah belahan jiwamu terharu mendengarnya.” Releena melemparkan pandangannya ke arah Zex, ia dapat merasakan bagaimana perasaan Zex saat itu. Ia berlari padanya. “Releena, terima kasih atas semuanya, walau aku tidak punya mata, aku akan membantumu dengan jiwa dan ragaku.”Ia memeluk Releena erat-erat. “CUKUP!!! Romantis boleh, tapi BUKAN SEKARANG!!! Ini saatnya kematian kalian semua. Hiya!!!”
Frienea berusaha menangkal sihir Deva, namun kekuatannya masih terlalu lemah dibandingkan oleh wanita itu. Ia pun melancarkan suatu serangan terakhir yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan sahabatnya. “Tolonglah aku Dewa dari segala Dewa. Aku relakan kekuatan terakhirku untuk menyelamatkan orang terpenting. Bantulah aku, hancurkan segala sihir yang membelenggu kedua orang itu. HANCURKAN!!!” Tubuh Releena dan Zex diselimuti cahaya pink, sejenak Releena merasakan sesuatu yang indah menyelami hatinya. “Releena… a… aku bisa melihatmu. Aku bisa melihat lagi.” Releena berbalik, ia melihat mata Zex begitu cemerlang. “Iya Zex, kau bisa melihatku lagi.” Hei! Bukankah Releena…. “Kau bersuara Releena, kau bisa bicara lagi.”ucap Zex bahagia. “Iya aku bisa bersuara, tapi… berarti ini perbuatan Frienea.” Releena khawatir sesuatu terjadi pada peri kecilnya.
Cahaya pink itu menghilang, dan terlihat bulu-bulu sayap bertebaran. “FRIENEA!!!” Zex dan Releena berlari menuju tubuh kecil yang tergeletak tak berdaya. “Frienea, mengapa kau melakukan ini?” Zex memangku tubuh mungil itu, “Iya Frienea, yang kau lakukan sungguh membuat kami semua sedih. Kami begitu menyayangimu.”.“Pi… Pi… Tu… A… ku… lakukan… karena… ak… ku… sayang… kalian…. Maafkan… se… gala… kes… sa… lahanku.”isak Frienea. Tangan Frienea jatuh. “Tidaaaaak!!!” Releena emosi, ia marah. Begitu juga dengan Zex. Tubuh mereka mengeluarkan aura yang amat aneh. Aura kemarahan…. Konon, nenek moyang Releena adalah Dewi Phoenix, yang jatuh cinta pada Raja Pegasus. Mungkinkah? Zex adalah keturunan dari Raja Pegasus itu? Pasangan Phoenix-Pegasus masa itu adalah pasangan yang amat terkenal kesaktiannya. Dan jika itu benar… Maka mereka…
“TIDAK AKAN KUBIARKAN, KAU PERGI . ATAU MEMBUNUHKU BEGITU SAJA.”teriak Releena. Aura merah mengelilinginya, mengobarkan semangatnya. “SAHABAT KAMI TELAH MENGORBANKAN DIRINYA. DAN KAMI TIDAK AKAN MENGECEWAKANNYA.”ucap Zex. Aura biru menampakkan jiwa ksatrianya. “Hu… Hu… Hu… Coba kalau kalian bisa. Kalian pasti kalah, dan menyusul pengkhianat itu.” Sebenarnya wajah Deva amat gelisah melihat semangat mereka yang didukung adanya kekuatan dan keberanian, namun ia terlalu angkuh untuk menyerah. Dalam hatinya ia berkata, ‘Bahaya, mereka terlihat amat tangguh. Aku harus menyatukan kekuatanku, seluruhnya. Untuk serangsn terakhirku sebaiknya aku keluarkan salah satu The Twin Mask yang dipinjamkan Tuan Azecmoile untukku. Setidaknya aku bisa menyelamatkan nyawaku bila saatnya tiba.’
“DEVA, bersiaplah menuju KEMATIANMU!!!” Zex mengangkat pedangnya, tangan Releena berada di atas tangannya. Mereka menyatukan jiwa dan pikiran mereka. Entah mengapa tiba-tiba ada bayangan seekor phoenix dan pegasus di belakang mereka, benar… mereka adalah keturunan Phoenix-Pegasus yang amat sakti itu. “Demi Frienea dan alam semesta… HANCURKAN SEGALA KEJAHATAN, DENGAN JIWA PHOENIX DAN PEGASUS KAMI… HIKARI NO ONNA!!!” Serangan itu begitu dahsyat sehingga Deva tidak bisa mengelak lagi, salah satu The Twin Mask pun hancur bersamaan dengan hancurnya ia… “Nuizx… TIDAAAAK! Ilmuku hancur TOLOOONG.…” Azecmoile hancur menjadi debu… Kekuatannya adalah The Twin Mask. Apabila itu hancur, maka hancurlah ia.
Sementara itu di gurun Polybourd…. “Releena… bangun, kita berhasil… .Bangun… Jangan tinggalkan aku… Aku mohon…” Zex termenung di sisi Releena, ia menunduk sedih karena kekasih hatinya tidak membuka matanya. Jari Releena mulai bergerak, matanya mulai berkedip, tangannya bergerak lemah menuju wajah Zex. Zex tersentak, ia melihat Releena mulai sadar. Ia begitu bahagia, “Releena, kita berhasil. Sekarang marilah kita pulang. Dan… Maukah kau menikah denganku ?” Releena mengangguk bahagia.
Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan, rakyat Mestiza membanjiri istana. Karena hari ini adalah hari pernikahan Zex… ah bukan, Dexfrad dan Releena. Ratu Messa amat bahagia, begitu pula dengan Koulz Scarfa, ayah Releena. Releena memakai gaun putih yang amat indah, memakai mahkota bertatahkan batu Emerald, membuatnya tampak amat mempesona. Setelah upacara selesai, mereka pun resmi menjadi suami-istri. Saat pesta dansa dimulai, ia berjalan ke balkon istana. Ia bersedih karena Frienea tidak menyaksikan pernikahannya. Secercah sinar turun dari angkasa bersamaan dengan itu seorang dewi ada di dalamnya. “FRIENEA!!!”ucap Releena. “Iya. Aku bahagia karena kau telah bersatu dengan Zex. Aku selalu mendoakanmu. Anak pertamamu adalah anak perempuan. Maukah kau beri nama Frienea?” pinta dewi itu. Releena mengangguk. Dewi itu melambaikan tangannya tanda perpisahan. Begitu pula dengan Releena. “Releena, bukankah itu Frienea?”tiba-tiba Zex datang, “Iya, ia bahagia.”ucap Releena. “Dan kau pun harus bahagia bersamaku.” .“Tentu, Zex sayang. Kita akan bahagia selamanya…”
“ Oee…Oee…!” tangis seorang bayi perempuan. “Wah anaknya perempuan !” ucap Ratu Messa
“Mau diberi nama siapa ?” . “ Frienea…Frienea Zextrouva…” ucap seorang ibu yang disambut senyum bahagia sang ayah.
copyright(c)LuzvimindaSetyawan
any use without permission is prohibited
[arthyarchie@yahoo.com] [siti.luzviminda@gmail.com]