Aku tersesat. Aku tak tahu aku berada di mana. ‘Di manakah aku sebenarnya?’ pertanyaan ini selalu menganggu pikiranku. Aku sudah lelah. Kepakan sayapku semakin lama semakin lambat. Mungkin karena aku sudah terbang seharian dan sampai sekarang aku belum beristirahat. Bagaimana ini? Aku takut sekali. Hutan ini terasa asing bagiku. Rasa-rasanya aku hanya berputar-putar di satu tempat. Semuanya terlihat sama, bahkan langitnya juga. Sayapku terasa berat, aku tak kuat lagi menahan berat badanku. Aku terjatuh.
Samar-samar aku mendengar suara semak-semak yang disibakkan. Aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru. Aku takut, aku ingin lari, tetapi tubuhku serasa mati. Aku pun menunggu apa yang akan terjadi.
“Sraak! Sraak!” suara itu semakin mendekat. Jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba “Aaaaaaaaaaaaaaaa!” teriakku. Aku melihat sosok makhluk yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ia begitu besar, mungkin 10 kali besar tubuhku. Aku menangis. Aku berharap ia tidak memakanku.
“Kakak kecil terluka ya? Aku tadi berlari ke sini setelah mendengar sesuatu terjatuh. Rumahku dekat dari sini. Kakak baik-baik saja kan?” ucap makhluk besar itu. Aku tersentak. Aku tidak menyangka makhluk sebesar itu mengucapkan kata-kata selembut itu. Aku membisu. Aku tidak tahu mengapa. Mulutku terkatup rapat. Melihatku diam tak berkutik, mahkluk besar itu perlahan-lahan mengangkatku dengan kedua telapak tangannya. Entah mengapa tangannya begitu hangat. Setelah berada di atas telapak tangannya, aku merasakan kedamaian. Rasa khawatir, rasa ketakutan, semua itu lenyap dari hatiku, yang ada hanyalah ketentraman.
Aku terbangun. Aku sempat berpikir kalau kejadian yang menimpaku hanyalah mimpi, seandainya makhluk besar itu tidak menyapaku. “Bagaimana keadaan kakak? Kemarin kakak aku bawa ke rumahku. Soalnya kakak pingsan sih! Terus, kemarin aku ganti baju kakak yang sobek-sobek itu.” ucapnya. Aku bingung. Sebenarnya aku ini berada di mana? Mengapa aku bisa bertemu makhluk sebesar itu? “Kamu tuh apa sih? Kok besar sekali. Namamu siapa?” tanyaku. “Aku ini kan manusia. Namaku Rieta. Aku sendirian di sini. Justru kakak yang kecil.” Aku kecil? Mengapa dia berkata seperti itu? Selama ini aku hanya melihat orang-orang seukuranku. Semua temanku juga sama sepertiku. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?
“Kakak! KAKAK! Jangan diam terus donk! Kasih tahu nama kakak atau ngomong apa gitu!” Nama? Oh iya sejak tadi aku belum memberitahukan namaku. “Namaku Frienea. Jangan panggil kakak ya! Thanks deh buat pertolonganmu. Tapi sekarang ini aku ada di mana?” Wajahnya mengernyit. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Sebagai seorang peri, aku memang peri yang paling malas. Aku tidak pernah serius saat belajar. Padahal teman-temanku sudah bisa membaca pikiran orang lain, tetapi aku paling-paling hanya mengeluarkan bola-bola api dan menghilang. Aku tidak tahu mengapa hidupku berubah. Aku ingat saat aku masih kecil, aku selalu berharap bisa menjadi peri yang hebat seperti ibuku. Yah, ibuku seorang peri 5 unsur. Ibuku menguasai semua ilmu yang berhubungan dengan tanah, api, air, angin, dan salju. Namun oleh Ratu Peri, ibuku Peri Soleil dinobatkan menjadi Peri Musim Panas. Aku heran mengapa cita-citaku ini lenyap. Aku lupa mengapa aku berubah. Oh Tuhan, tolong ingatkan aku!
“KAK FRIENEA! Jangan melamun lagi dong! OK deh, biar aku jelasin. Aku nggak tahu kakak ini asalnya dari mana, tapi sekarang ini kita ada di bumi. Tepatnya di Hutan Pelangi. Mungkin kakak terdampar di sini. Tapi aku bisa menebak kalau kakak ini pasti peri. Iya kan!” Hutan Pelangi? Rasanya aku pernah mendengarnya? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku ini peri? Padahal aku tidak tahu apa yang namanya manusia. Setelah makhluk itu, maksudku Rieta menjelaskan lebih rinci, ternyata di sini sejak jaman dahulu telah ada legenda tentang peri.
Dalam lubuk hatiku, aku masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun begitu hari-hariku terasa indah berkat kehadiran Rieta. Saat aku murung, ia selalu membuatku tertawa. Rasanya aku seperti menemukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku miliki. Aku merasa sangat bahagia. Aku sedikit sedih dengan keadaan Rieta, aku ingin bertanya, tetapi aku takut ia menjadi sedih. Aku heran mengapa ia hidup sendiri. Mengapa ia tinggal sendirian di Hutan Pelangi ini?
Sudah 3 hari aku tinggal di sini. Malam ini pikiranku kacau, aku tidak bisa tidur. Kulihat Rieta tertidur dengan pulasnya, di atas dadanya terdapat untaian bunga yang indah yang tadi pagi kami rangkai bersama. Aku terbang ke luar rumah. Aku memandang bintang-bintang yang bertaburan, sungguh indah. Sebelum aku bertemu Rieta, aku belum pernah melihat bintang-bintang yang begitu indah bagaikan taburan permata di atas sutra biru tua. Malam ini ternyata bulan purnama. Bulannya besar sekali. Aku teringat sesuatu. Sesuatu yang ingin, bahkan sudah kulupakan. Apa? Apakah yang sebenarnya dulu terjadi sehingga aku ingin melupakannya? Aku merenung. Hal yang hampir kuingat sekejap hilang. Aku tak mampu untuk mengingatnya.
Hosh… hosh… Aku terbang kencang sekali. Lelah. Aku tak mengerti mengapa aku harus melakukan hal ini. Untuk apa? Gelap, malam ini sungguh gelap. “ Oh ya, sekarang kan bulan baru!” pikirku. Bruuuk! Tak sengaja aku menabrak sebuah pohon besar. Karena gelapnya sampai-sampai aku tidak dapat melihat apa pun. Dahiku terluka. Pening sekali rasanya. Tiba-tiba aku mendengar desisan dan aku merasa sesuatu yang berasal dari atas pohon mendekat ke arahku. Tiba-tiba… “KAK FRIENEA! Bangun dong! Udah pagi nih!” Suara Rieta membuatku terbangun. Ternyata hanya mimpi. “Kak Frie, kok kakak berkeringat sih! Lagi pula kenapa kakak tidur di luar? Bahaya lho!” Ucapannya membuatku sadar bahwa mimpiku bukan mimpi biasa. Dulu…dulu sekali, rasanya aku pernah mengalaminya, sepertinya aku… entahlah aku tak mampu memikirkan soal itu. Seluruh otakku serasa mencair. Aku tak tahu apa kelanjutan mimpiku, aku tak mampu untuk menebaknya.
Hari ini aku tidak bergairah untuk bermain, aku terus membisu. Rieta yang membaca keadaanku lalu menanyakan mengapa aku murung dan tidak berbicara sepatah kata pun. “Aku bingung. Aku nggak tahu kenapa aku bisa ada di sini. Aku juga nggak tahu kenapa aku ada di sini. Aku bahkan nggak tahu siapa aku? Aku nggak tahu gimana caranya untuk pulang kembali ke duniaku. Mimpiku semalam bikin aku tambah bingung. Aku makin nggak ngerti tujuanku hidup di dunia ini. Apa lebih baik aku mati aja? Kalau aku mati, aku bisa merasa lebih tenang., karena semua masalahku hilang seketika.” jawabku. “MATI? MATI KATA KAKAK? Apa kakak bener-bener nggak ngerti apa tujuan manusia dilahirkan ke dunia ini? Untuk hidup. Kakak seenaknya aja bilang mau mati. Apa kakak nggak tahu gimana rasanya orang yang berjuang untuk hidup. KAKAK NGGAK TAHU YA? Kalau begitu aku salah menganggap kakak sebagai temanku. Aku salah.” Rieta berlari menuju hutan setelah mengucapkan kata-kata yang membuatku tersentak. Anak berumur 7 tahun dengan lantangnya dapat mengucapkan kata-kata yang begitu berani. Ia benar, tidak seharusnya aku berkata seperti itu.
Aku pun menunggu Rieta di halaman rumah. 1 jam, 2 jam, 5 jam, Rieta belum kembali. Aku khawatir, aku takut sesuatu terjadi padanya. Aku mulai gelisah. Aku terbang tak tentu arah. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya ke dalam Hutan Pelangi.
Saat aku memasuki hutan, aku merasakan sesuatu yang aneh menyelimuti hatiku. Aku merasa takut. Kecemasan dan kegelisahanku semakin kuat. Aku terus terbang, aku mengikuti hati nuraniku. Entah benar entah salah, aku tidak tahu. Aku tak peduli lagi siapa aku. Aku tak peduli lagi mengapa aku berada di sini. Aku tak peduli lagi apa tujuanku untuk hidup. Hanya satu yang aku tahu saat ini. Aku berada di sini untuk bertemu Rieta. Aku berada di sini untuk menemani Rieta. Aku berada di sini untuk menjadi teman Rieta. Pandanganku terbuka. Aku semakin memahami apa artinya hidup. Aku baru sadar betapa piciknya aku. Tentang mimpiku dan berbagai pertanyaan yang menghantuiku, aku pasti akan menemukan jawabannya. Aku yakin.
Gelap. Padahal kemarin bulan purnama. Aku baru sadar aku sudah terbang cukup lama. Aku rasa aku sudah masuk jauh ke dalam hutan. Ketakutan dan kecemasan yang tadi hilang, muncul lagi. Bahkan perasaan itu lebih kuat dari sebelumnya. Dingin, dinginnya serasa menusuk tulangku. Aku merasakan aura yang tidak biasa. Aura ini mirip dengan aura yang aku rasakan dalam mimpiku. Aku melihat sebuah pohon besar di depanku, beruntung aku cepat menyadarinya, kalau tidak aku pasti sudah menabraknya.
Pohon itu pohon yang sama dengan pohon yang aku lihat di dalam mimpi. Tiba-tiba aku mendengar suara isak tangis. “Rieta?” Terdengar suara langkah kaki. “FRIENEA! Kak Frieneaaaaaa!” Ternyata suara itu memang suara Rieta. Aku terbang menyongsong Rieta. Tangan Rieta menyambutku. “Rieta maafkan aku.” ucapku. Darah, tubuh Rieta penuh darah. Apa yang sebenarnya terjadi. “Aku bertahan hidup, kak. Aku berhasil mengalahkannya. Aku berhasil.” ucapnya seraya menunjuk makhluk yang tergeletak bersimbah darah. Makhluk itu ditindih batu besar. Setelah kuamati, aku teringat akan mimpiku. Aku ingat akan perbuatan yang selama ini aku lupakan. Ternyata apa yang aku lakukan dulu berdampak amat buruk. Terutama bagi Rieta.
“Rieta ada yang pingin aku omongin, setidaknya saat ini aku pingin kamu tahu siapa aku sebenarnya. Aku sudah ingat semuanya.” Rieta aku sandarkan di bawah pohon. Setelah itu aku memulai kisah hidupku.
“Aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku begitu menginginkan kedudukan dalam dunia peri, sama seperti ibuku. Ibuku Soleil adalah peri yang disegani. Ia mendapat kedudukan dalam 4 Istana tertinggi, yaitu Istana Musim Panas, Istana Musim Dingin, Istana Musim Gugur dan Istana Musim Semi. Karena kepandaiannya ibuku dinobatkan menjadi Peri Musim Panas. Sejak saat itu hidupku mulai berubah.
Sejak kecil aku selalu berusaha menjadi peri yang baik. Aku selalu belajar lebih dari yang lainnya. Aku berlatih lebih keras dari yang lainnya. Walaupun begitu aku tidak pernah bisa melebihi yang lainnya. Aku selalu kalah dari teman-temanku. Setelah penobatan ibuku menjadi Peri Musim Panas, teman-temanku mulai mengejekku. Mereka bilang aku ini pasti bukan keturunan Soleil, karena aku bodoh sedangkan Soleil begitu cerdas. Aku tidak pernah bercerita pada ibuku. Aku malu. Sebagai anak aku tidak dapat membuatnya bangga. Sampai pada suatu hari sekelompok peri mengatakan bahwa mereka tahu alasan mengapa aku begitu bodoh. Aku yang polos menuruti apa kata mereka karena keingintahuanku yang besar akan alasan tersebut.
Saat aku memenuhi permintaan mereka, mereka justru mengejarku sehingga aku terjatuh ke dunia ini, tepatnya ke Hutan Pelangi. Seperti dalam mimpiku, aku diselamatkan oleh makhluk yang baru saja Rieta bunuh. Ia mengatakan bahwa jika aku ingin menjadi peri yang hebat, aku harus membawa surai anak Pegasus untuk diramu menjadi jamu. Ia juga mengatakan bahwa surai itu harus dia sendiri yang mengambilnya. Maka dari itu, aku mencuri anak Pegasus milik Ratu Peri dan membawanya menuju ke Hutan Pelangi dengan cara terjun ke Tebing Cinta.
Setelah aku membawa Cupid, si anak Pegasus ke hadapannya, dengan kejam ia menarik surainya hingga kepala Cupid penuh luka. Saat itu aku bukannya menolong Cupid, aku justru terbang ketakutan. Aku memang pengecut. Saat itu makhluk yang bernama Saloc itu mengejarku. Cupid demi menolongku mengorbankan nyawanya, sehingga aku dengan selamat kembali ke Dunia Peri. Aku tidak tahu mengapa tapi sejak aku terbangun, aku lupa akan apa yang telah aku lakukan, bahkan kasus Cupid yang hilang pun aku seakan tidak tahu apa-apa. Aku baru sadar sekarang kalau pada saat Cupid menolongku dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku berharap aku lupa akan semua yang telah aku lakukan. Maka dari itu aku tidak mampu lagi untuk berusaha, karena hati kecilku tahu kalau aku sudah putus asa, aku tidak mau mengingat hal yang mengerikan itu.
Aku tak menyangka bahwa perbuatanku membuat orangtuamu terbunuh, sekarang pun kamu luka-luka. Aku menyesal, aku benar-benar menyesal. Bertahanlah Rieta.” Saat itu Rieta tersenyum, “Kak Frie, akhirnya kakak menyesal. Aku nggak pernah marah sama kakak. Aku sayang sekali sama kakak. Aku udah maafin kakak kok!” Setelah Rieta mengatakan hal itu, tiba-tiba sebersit cahaya muncul dari kegelapan malam. Ternyata pintu Dunia Peri telah terbuka. Aku bisa pulang. Akhirnya aku tahu semua jawaban akan pertanyaanku. Aku ada di sini untuk mengakui kesalahanku.
Pintu Dunia Peri terbuka lebar untukku, tetapi kakiku tidak ingin melangkah ke sana. Aku ingin tetap berada di sisi Rieta. Akhirnya aku putuskan untuk melangkahkan kakiku ke arahnya. “Rieta!!!” Aku terbang secepat mungkin menuju Rieta. “Ayo kita pulang, akan kurawat lukamu. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu.” ujarku. Rieta mengangguk bahagia. Aku membantunya berjalan ke rumah, saat itu juga pintu Dunia Peri tertutup. Aku sadar di sana bukan tempatku. “Rieta udah sampai. Ayo…RIETA! RIETA! RIETAAAA! Tidaaaaaaaaak!!!”
Rieta telah tiada. Aku tak punya Dunia Peri untuk kembali, tetapi demi Rieta aku akan terus bertahan hidup. Ada banyak tempat di bumi ini. Aku pasti akan menemukan temapatku. Aku pasti akan mengetahui siapa aku di masa depan. Aku yakin.