Ada dua tangan mengejarku, aku berlari, aku takut mereka akan menangkapku. Tetapi aku tak bisa berlari lagi, aku terpojok. Mereka mendekatiku, mereka memelukku, hangat sekali. Tetapi pelukan salah satu dari mereka membuatku berdebar-debar tapi terasa asing dan yang satu lagi hangat penuh kasih sayang. Siapakah mereka?
“REINA, BANGUN!!! Sudah jam tujuh lho! Nanti kesiangan!” Aku pun terbangun. Ternyata semua itu hanya mimpi. “Kak Dofi tuh gimana sih! Aku kan lagi enak-enakan ngimpi, kok malah dibangunin sih!” Dia itu Kak Dofi, kakakku yang baik. Aku sayang sekali sama dia. “Aduh, adikku yang manis and cantik, sekarang udah jam tujuh. Mau berangkat nggak?”ucapnya sambil mengelus kepalaku. “Haaaaaaa! Kok nggak bilang dari tadi sih!”akupun segera berlari ke kamar mandi. Saat itu aku merasa kakak memandangku dengan cara yang lain. Ah! Mungkin hanya perasaanku saja. Setelah sarapan, aku buru-buru menyusul kakakku yang sudah siap di depan rumah. “Kaaaaaaak! Tungguin Reina dong!”
Aku belum bilang ya! Aku dan kakakku selisihnya hanya dua tahun. Aku kelas satu SMU, sedang kakakku kelas tiga SMU. Kami sekolah di SMU Pelita Nusantara. Kalau mau tahu, kakakku itu jago main basket. Ia bintang basket di SMU kami. Selain itu nilai rapornya selalu sepuluh besar. Maka dari itu banyak cewek-cewek sekolahku yang nge-fans berat sama dia. Ya memang sih, selain semua kelebihannya di atas, kakakku itu termasuk golongan orang-orang yang good looking. Pokoknya Kak Dofi itu kakak kebanggaanku. Kalau papaku mantan dubes Indonesia di Jepang, namanya Niko Mahargawa, kayak orang Jepang ya! Tapi sekarang ngelola perusahaan sendiri, papaku juga pelatih basket yang handal, makanya mamaku jadi jatuh hati sama papa, trus Kak Dofi jadi jago deh basketnya!
Siang itu aku pergi ke kantin, kata Via temanku, ada anak baru di kelas 2-4. Katanya sih anaknya lumayan cakep and keren. Namanya Rino. “Rei, itu lho yang namanya Rino.”tunjuk Via pada sosok cowok yang begitu menarik perhatianku. Ia berjalan ke arahku, entah kenapa dia tiba-tiba jatuh dan menabrakku. Milkshake-ku tumpah dan mengenai bajuku. Ternyata anak-anak kelas tiga jahil yang tahu dia anak baru pengen ngerjain dia. “Sorry ya, bajumu jadi kotor, sini aku bantuin mbersihin. Mereka dari tadi pagi emang ngerjain aku terus. Sekarang kamu malah kena getahnya.”ucap Rino. Aku seolah terhipnotis olehnya. “Rei, sadar!”ucap Via. “Ah nggak apa-apa, maafin mereka, mereka emang suka jahil kalo ada anak baru.”jawabku. “Ohya, namaku Reina, kelas 1-3. Kalo kamu?”tanyaku penuh harap. “Aku Rino, baru datang dari Jogja, aku di kelas 2-4.”jawabnya, “nih pake aja saputanganku, karena milkshake-mu udah tumpah, aku beliin lagi ya.” Aku hanya terdiam menatapnya terus berbicara. Aku terima saja pemberiannya itu. “Eh, Rino. Saputangannya aku kembaliin besok ya!”teriakku saat ia berlari menuju kelasnya.
“Rei, kamu naksir dia ya?”tanya Via. “Habis, dia bener-bener tipeku sih!”jawabku sambil terus menggenggam saputangan miliknya. Tiba-tiba aku teringat mimpiku tadi malam, aku berpikir jangan-jangan pelukan yang membuatku berdebar adalah pelukannya? Tetapi, kok kebetulan sekali ya? “Rei, yuk balik! Udah bel nih!”ucap Via tak sabar. “Oki. Deh!”
Malamnya, aku bener-bener nggak bisa tidur. Wajah Rino yang ramah terus terbayang dalam ingatanku. Saputangan miliknya terus kugenggam, seakan aku tidak akan mengembalikannya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. “Siapa? Kak Dofi, ya?”tanyaku. “Iya! Buka donk! Kakak mo ngomong nich!”jawabnya. Aku pun beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju pintu. Aku membukanya. Aku terkejut. Baru kali ini aku melihat wajah Kak Dofi amat bingung. “Ayo kak, ada apa sih? Kok kayaknya serius banget?”tanyaku penuh perhatian(ciee!). “Rei, gimana donk? Kakak bingung nich! Kamu kan tahu, kalo kakak banyak fansnya, nah tadi tuh … gimana ya … itu …”, “tadi … ada cewek yang nembak aku, adik kelas ….”ucapnya terbata-bata. “HAAAAAAA! Emang kenapa? Kok tumben fans kakak berani banget, lagipula kan kakak belum punya cewek, jadi mumpung ada cewek yang agresif, trima aja…”ucapku cuek. “JADI KAMU MAU AKU PACARAN? YA UDAH KALO KAMU MAUNYA BEGITU, THANKS ATAS PERHATIANNYA, MET BOBO!!!”ucapnya dengan nada tinggi. “Braaaak”pintu kamarku ditutupnya dengan keras.
Kenapa? Biasanya kakak tidak pernah begitu … ada apa? Aku heran kakakku yang lembut dan baik, kok bisa marah cuma gara-gara soal itu. Aku harap kakak nggak punya masalah serius. Aku sayang banget sama kamu, kak. “Kak Dofi ….”
Esoknya….
“Adikku yang super manis, udah jam setengah tujuh. Bukannya nanti kamu ada tugas pagi? Woooi! BANGUN!!!”ucap Kak Dofi. “Aaaah, kakak to?Kirain…”ucapku asal, “kakak udah nggak marah lagi sama aku.” Ia terdiam. “Sorry ya! Habis kemarin kakak lagi emosi. Omomg-omong kakak dikira siapa?”tanyanya jahil. “Udah ah! Aku mau mandi ntar telat.” Aku pun segera menuju kamar mandi.
Sebelum berangkat aku mengecek apa saputangan Rino sudah kubawa atau belum. Ternyata saputangan pujaan hatiku masih tergeletak di atas meja. Aku pun mengambilnya dan segera berangkat ke sekolah.
“Kak Dofi, omong-omong gimana nasib cewek yang nembak kakak. Diterima atau dicuekin?”tanyaku. “Bener nih, kalo diterima kamu nggak apa-apa.”jawabnya serius. “Ya nggak lah! Aku malah seneng banget, akhirnya kakakku yang udah 18 tahun melajang bakal dapet calon istri. Anak kelas berapa sih?”ucapku. Sekilas aku melihat raut wajah kakakku terpancar kekecewaan. Tapi mungkin hanya perasaaanku. “Anak kelas dua, 2-4.”jawabnya. “Wah sekelas ama Rinoku donk!”ucapku spontan, “eh bukan, ding! Nggak sekelas ama siapa-siapa.” Tampaknya kakakku yang pintar sudah mencium sesuatu, matanya itu menampakkan kebingungan dan kejahilan yang menyebalkan, “Oh…Rino…yang kamu kira itu. Dia kan kemarin daftar di klub basket. Dia lumayan hebat waktu kakak tes. Tapi masih hebat kakak lah!” Tuh…bener kan! Tapi entah kenapa, aku kembali melihat ekspresi kakakku yang tidak biasanya.
Sampai di sekolah aku segera mengajak Via ke kelas 2.4, itu tuh ngembaliin saputangannya Rino. “Rinonya ada?” tanyaku pada cewek yang cukup manis dan berambut panjang. “Oh Rino, kayaknya belum tuh! Namamu? Aku Gina.” tanyanya. “Reina.” Jawabku singkat. Buntut punya buntut ternyata dia tuh cewek yang nembak kakakku. Gini-gini ternyata aku lumayan terkenal juga. Akhirnya aku putuskan buat mbantu dia, buntut punya buntut lagi ternyata dia tuh sepupunya Rino. Asyik!!! Sekali mendayung dua tiga orang dapet, he…he…he…. Pas kita lagi asyik ngobrol, Rino dateng, aku kembaliin deh saputangannya. Tapi, aku lihat sebuah ekspresi aneh di matanya. Apa itu hanya perasaanku saja?
Hari ini ada latihan basket, seperti biasa aku selalu datang. Habis kayaknya kalo ada latihan aku gak datang jadi aneh deh. Lucu…kayak-kayak Kak Dofi tuh pacarku ya! Tapi sekarang ada alasan lain, bukan cuma Kak Dofi, aku juga mo ngecengin Rino. “Priiiiiiiiit!” latihan dimulai. Ternyata Rino memang keren, apalagi sosoknya saat main basket. TOP BGT! Lagi-lagi aku melihat ekspresi aneh di mata Kak Dofi, dan sejak saat itu aku merasa Kak Dofi yang sekarang bukanlah Kak Dofi yang dulu. Ah, mungkin itu juga hanya perasaanku saja.
Setelah kulihat-lihat ternyata permainan basket Rino bagus juga, nggak jauh-jauh amat dari permainan fantastis Kak Dofi. Doi juga jago lemparan Three Point. Kayaknya Rino bakal dijadiin pemain inti nih! Selesai latihan aku ngedeketin Rino, aku tanya dia tentang Gina.
“Eh Rin, menurutmu kalo jadian ama kakakku, gimana?”
“Mang napa?”
“Ya … asik aja. Abis Gina tuh kayaknya anak baik. Mana dia duluan nembak kakakku!”
“Apa urusannya sama aku! Sorry aku mau mandi!”
Aku pengen tahu pendapatnya kalau Gina jadian ama Kak Dofi, entah kenapa dia malah tersinggung dan kayaknya nggak suka. Aneh deh! Dia kan sepupunya Gina. Sesampainya di rumah aku mikirin semua perasaan-perasaanku yang agak aneh. Berhubung aku bener-bener bingung, aku cerita ke Via. Ternyata doi juga bingung. Tapi doi bilang itu semua pasti ada apa-apanya. Itu mah gua juga tahu!
Akhirnya aku putuskan buat nanyain masalah Gina ke Kak Dofi. Hari itu hari cerah. Matahari bersinar dengan anggunnya.
“Kak, aku udah tahu lho cewek yang nembak kakak.”
“Siapa? Sok tahu lho!”jawabnya cuek.
“G-I-N-A. Itu lho sepupunya Rino. Bener kan!!!”
Setelah aku berbicara begitu, Kak Dofi terdiam. Tiba-tiba Kak Dofi menarik tanganku lalu memelukku. Erat, sampai-sampai aku tidak bisa bernafas. “Kak, sakit.”ucapku. Ia melepas pelukannya dan dari wajahnya terpancar kesedihan. “Sorry Rei, kakak lagi capek. Kakak mau tidur ya!” Aku pun pergi meninggalkan kamarnya. Jantungku berdebar. Aku bingung. Entah mengapa aku merasa asing dengan Kak Dofi. Pelukannya membuatku berdebar tapi … aku merasa tidak mengenal Kak Dofi. Aku merasa jauh. Apa yang sebenarnya terjadi pada kakakku?
Esoknya, Kak Dofi membangunkanku seperti biasa. Kami pun berangkat ke sekolah seperti biasa, tidak ada yang berubah. Aku cerita ke Via soal pelukan itu. Dia bilang mungkin kakakku lagi mengalami masalah tapi nggak tahu cara menyelesaikannya. Pelukan itu adalah ekspresi kebingungannya. Mungkin juga pikirku. Tapi apa sebenarnya yang membuatnya bingung, Gina? Masa sih? Aku? Kayaknya aku nggak ada masalah. Aku sayang sama Kak Dofi. Aku nggak mau dia begitu terus.
Lepas masalah itu, misiku buat PDKT ama Rino tetap berjalan. Aku nggak pernah nglewatin latihan basket. Aku juga always makan di kantin. Biar kantong kering, asal bisa ngelihat pujaan hati sih, buatku nggak masalah. Aku juga always ngajak doi ngobrol. Pokoknya asyik deh! Kayaknya dia tahu kalau aku ngasih sinyal ke dia. Menurut perasaanku dia juga ngasih lampu ijo ke aku. So … kayaknya bakal happy ending deh! Makin hari hubungan kita makin deket bisa dibilang dalam taraf H-T-S (Hubungan tanpa status). Bersamaan dengan itu pula Kak Dofi makin jauh dari aku.
“Kak, Rei boleh masuk nggak?” tanyaku. Jujur aja aku pengen curhat ama Kak Dofi. Soalnya aku sama Kak Dofi jarang bareng. Paling cuma berangkat sekolah. Pulang sekolah aku bareng Rino. “Masuk Rei!”jawabnya. Kubuka pintu kamarnya, aku lihat kamarnya agak berantakan. Padahal biasanya kamar Kak Dofi selalu rapi. “Kak, kakak marah sama Rei ya? Kakak nggak suka Rei jalan ama Rino? Tapi, Rei suka ama dia kak.”ucapku. Kembali aku melihat dari matanya sorot mata kesedihan. “Bukan gitu Rei. Kamu nggak usah khawatir, kakak nggak papa. Kamu bener setuju kakak jadian ma Gina?”sahutnya. Entah kenapa aku merasa aneh dengan ucapannya. “Ya dong! Lagipula Gina kan sepupunya Rino. Asyik kan! Selain itu Gina kan…” “STOP!”selanya, “Kakak ngerti, kamu keluar deh kakak mau belajar. Besok ulangan Sosiologi.”
Esoknya, tersebar berita ke seluruh sekolah kalau Kak Dofi jadian ama Gina. Temen-temen sekelas pada nanyain ke aku. Aku sendiri merasa aneh. Aku nggak begitu senang Kak Dofi pacaran. Aku ngrasa Kak Dofi diambil dariku. Padahal aku yang ngebet nyuruh Kak Dofi jadian, tapi kok aku nyesel ya? “Rei! REI!”panggil Via. “Eh, sorry. Apa?”jawabku. “Tuh suamimu dah nungguin. Kamu dah jadian ma Rino ya?” Aku tersenyum dan menggeleng. Aku pun berlari menuju pangeranku.
“Rin, asyik ya, sepupumu pacaran ma kakakku.”tanyaku di atas motornya. Sunyi. Ia terdiam tak menjawab. “Rei, sebenernya. Aku ma Gina dulu pernah jadian waktu SMP. Aku sayang banget ma dia. Tapi aku diputusin waktu mau masuk SMU. Aku sedih banget. Padahal Gina tuh first love ku. Sorry aku nggak pernah bilang, aku nggak mau kamu terbebani. Memang sekarang aku gak bisa sepenuhnya nglupain dia, tapi aku sekarang udah ada kamu.”ujarnya. Deg! Hatiku bergejolak. Aku nggak nyangka semua hal itu. Rasanya aku ingin menangis sebelum Rino ngomong, “Rei, kamu mau jadian ma aku nggak?” Jantungku berdegup kencang, benarkah? Aku tak menjawab.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku sampai di depan rumahku. Aku turun dari motornya. Aku lepas helmku. Ia memandangku. Lama sekali. Aku hanya menunduk. Saat aku akan berjalan masuk aku berbalik dan mengangguk. Aku ingin berlari tapi ia segera meraih tanganku dan memelukku. “Makasih ya Rei.”ucapnya. Pelukan ini berbeda. Berbeda dengan pelukan Kak Dofi waktu itu. Hangat. Penuh kasih sayang.
Setelah kejadian itu aku pun segera masuk ke dalam rumah. Ternyata di depan pintu ada Kak Dofi. Kak Dofi sepertinya melihat kejadian itu. “Kamu udah jadian ma Rino, ya Rei?”tanyanya dengan nada yang aku nggak suka. Aku mengangguk, “Kak Dofi juga kan ama Gina”jawabku. Aku pun segera lari ke kamar. Tiba-tiba aku teringat mimpiku di mana aku mendapat dua pelukan. Apakah ini maksudnya? Apakah pelukan yang membuatku berdebar adalah pelukannya Kak Dofi? Tapi, kenapa aku malah merasa asing? Apakah pelukan yang hangat penuh kasih sayang itu pelukannya Rino? Kenapa? Padahal baru pertama.Tapi…bukankah kalau dipeluk orang yang disukai jantung bakal berdebar, kok aku justru merasakan kehangatan seakan sudah pernah dipeluk oleh orang yang sama sebelumya?
Berita jadiannya aku ama Rino pun cepat menyebar. Bagaimana pun sebagai anak baru dia jago basket jadi Rino tuh cukup popular di kalangan anak cewek. Via sih nggak begitu kaget, soalnya dari dulu kita memang ada jalan ke arah itu sih! Cuma nunggu peresmiannya aja. Nah berhubung udah diresmiin, jadinya kantong kita kering deh! Biasalah Pe-Je. Anak-anak sekelas plus anak-anak basket pada minta Pe-Je ke kita. Mau gimana lagi? Akhirnya pulsek kita plus anak-anak jalan ke kafe. Berhubung Kak Dofi sama Gina belum diPe-Jein so sekalian. Jadi hari itu kita ke kafe bareng ama temen-temennya Kak Dofi juga. Rame deh!!!
Aku nggak bakal lupa sama hari itu. Hari itu tanggal 25 Maret. Hari yang cukup panas. Pokoknya kita semua berangkat bareng-bareng ke kafe. Hari itu aku boncengan ama Rino. Kak Dofi naik mobilnya ama Gina dan beberapa temennya Kak Dofi. Sedang yang lain ada yang naik motor juga ada yang naik mobil. Hari itu aku seneng banget, aku ngobrol terus ama Rino.
“Rin, memang kamu tuh pinter ya?”
“Jelas donk! Kalo soal Fisika ama Matematika, serahin aja sama aku.”
“Wah asyik! Ajarin aku ya, kapan-kapan belajar bareng.”
“Wah, kalo belajar bareng kayaknya sulit.”
“Kamu nggak sayang sama aku ya?”
“bukan gitu, habis nanti aku malah ngliatin wajah kamu sih!”
“Huu … gombalnya keluar deh!”
Saat itu karena keasyikan ngobrol Rino jadi nggak konsen, akibatnya… “Ckiiit!” “Braaakk!” sebuah minibus melaju cepat dan menabrak motor Rino. Kami berdua terlempar ke jalan. Dalam hati aku terus memanggil nama Rino. Aku takut sekali.
“Di mana aku?” Aku melihat tiga orang mengelilingi tempat tidurku. Aku lupa apa yang sebenarnya terjadi. Hanya satu kata yang kuingat “Rino! Mana Rino?” ucapku. “Reina, kamu nggak papa nak? Kami khawatir sekali. Terutama Dofi.” Ucap seorang ibu sambil menunjuk pada sosok yang… “Kamu siapa?”tanyaku padanya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kepalaku sakit. Aku tak dapat mengingat apa-apa.
“Rei, Kak Dofi dateng nih! Oh ya, Rino udah sadar tuh di ruang sebelah. Mo nengok? Kakak ambilin kursi roda deh!” ucap seorang cowok yang katanya bernama Kak Dofi, kakakku. Aku mengangguk. Aku ingin sekali bertemu Rino. Sepuluh menit kemudian, kakak itu datang membawa kursi roda. Dengan hati-hati sekali ia memapahku naik ke kursi roda. Ini hari kedua pertemuanku dengannya, tapi aku merasa sudah kenal lama sekali.
“Rinooo!” teriakku saat aku melihat Rino. Kakinya patah. Tapi kurasa ia baik-baik saja. Tanpa mempedulikan kakak itu aku mendorong kursi rodaku ke sisi Rino. Dunia milik berdua.
“Rino, kamu gak papa.”
“Nggak papa, kok!”
“Nggak sakit?”
“Ya, kalo sakit sih sakit.”
“Kakinya ya? Tapi, nggak kenapa-kenapa kan!”
“Tenang aja, kamu gak usah pasang muka kayak gitu.”
“Habis, kalo kamu sakit, aku sedih banget.”
“Rei, kasihan tuh Kak Dofi, masa dikacangin sih!”
“Kak Dofi? Oh kakak itu. Dia benar-benar kakakku? Kata dokter aku gegar otak dan mengalami amnesia, yang kuingat cuma kamu Rino.”
Rino kaget. Ia sangat tahu kalau hubungan Kak Dofi dan aku amatlah dekat, tapi… kenapa hanya dia yang diingat, bukannya Kak Dofi? Wajah kakak itu waktu itu amat sedih. Setelah mendengar perkataanku, ia berbalik dan meninggalkan kami berdua. Aku bingung, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar tidak ingat. Aku lupa.
Seminggu kemudian kami boleh pulang. Aku masih belum ingat apa-apa. Walaupun begitu, aku dibawa pulang oleh orang yang katanya ayah dan ibuku plus Kak Dofi ke sebuah rumah yang katanya rumahku. Aku dibawa ke sebuah kamar bercat pink yang harumnya seperti bunga mawar. Di sana aku melihat banyak sekali foto. Mayoritas aku berfoto bersama kakak itu, Kak Dofi. “Rei, Kak Dofi harap kamu cepat ingat, kakak pengen denger teriakanmu, cerita-ceritamu, nasehat-nasehatmu, juga ketawamu yang mirip Mak Lampir itu.” ucap kakak itu, eh… Kak Dofi sebelum keluar dari kamarku. Sepertinya ia meneteskan airmata. Apakah sebesar itu rasa sayangnya padaku?
Esoknya Rino dateng sama cewek, pertamanya aku cemburu banget. Buntutnya aku tahu kalo itu pacarnya Kak Dofi plus sepupunya Rino, Gina. Jalannya Rino masih pincang, tapi aku seneng banget dia mau dateng. Waktu Kak Dofi masuk, ia ama Gina ngobrol di luar. Jadi aku ama Rino tinggal berdua. Rino bilang kalo dia khawatir ama keadaanku. Dia seneng banget soalnya cuma dia yang aku ingat. Dia memelukku. Aku tidak akan lupa, pelukan itu sama seperti pelukan Rino dulu, penuh kasih sayang memebuatku merasa nyaman. Aku sendiri heran, kenapa cuma dia yang aku ingat?
Aku bersyukur aku udah boleh berangkat sekolah walaupun aku masih amnesia. Waktu itu aku melihat seorang wanita yang amat kukenal. Aku rasa dia … “MAMA!” Aku mendekati seorang wanita yang kukenal sebagai mamaku. Lalu siapa mamaku yang di rumah itu? “Mama?Itu kan mamaku.”ucap Rino. Deg! Mamanya Rino? Lho?!? Wanita itu menoleh. “Rino? Itu cewekmu ya? Udah nggak papa? Sorry dulu Rino nggak sengaja bikin kamu jatuh.”ucap wanita itu. “Ini Reina, Ma! Kok katanya, mama, mamanya sih!”tanya Rino cemas. “Reina? Mama?”gumam wanita itu. Ia memandangiku lekat-lekat. Ia tersenyum. “Jadi, kamu sudah besar ya? Dulu kamu kan main bareng Rino, waktu kamu umur tiga tahun. Kamu memang selalu anggep aku mamamu. Gimana kabarnya papamu, Pak Niko?”tanya wanita itu. “Mama kenal papanya Reina?”tanya Rino. Wanita itu terdiam. “Oh ya! Mama masih ada urusan. Duluan ya Rin, Rei!” lalu wanita itu pergi meninggalkan Rino yang kebingungan. Aku penasaran, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku tuh siapa?
Sepulangnya dari sekolah aku pergi ke kamar Kak Dofi. “Kak, aku tuh siapa? Kok aku bisa nganggep mamanya Rino, mamaku sih? Kenapa yang ada diingatanku justru bukan mama, papa, atau Kak Dofi? Kenapa kak?”tanyaku sampai hampir menangis. Kak Dofi terdiam. “Rei, sampai kapanpun kamu tetap adikku yang paling manis. Sampai kapanpun kamu tetep anak papa sama mama. Apapun yang terjadi kita adalah keluarga.”jawabnya. Ia menatap mataku dalam-dalam. Dalam sinar matanya aku melihat kasih sayang dan cinta. “Tapi kak…” Tiba-tiba Kak Dofi memelukku erat. Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, aku pernah mengalami ini. Pelukan yang sama. Tanpa sadar tanganku menyambutnya. Aku merasa ini bukan yang pertama kalinya. Aku tahu ini Kak Dofi. Ini Kak Dofiku yang dulu. “Kak Dofi, kakak nangis ya? Rei nggak papa kok. Nanti Gina cemburu lho!” Kak Dofi melepas pelukannya. Terlihat air mata di wajahnya, kuhapus airmata itu. Ia tersenyum. “Rei, ingat? Ingat ama Kak Dofi?” Aku mengangguk. Ia kembali memelukku, “Terima kasih Tuhan, Engakau telah mengembalikan Reiku.” Entah kenapa setiap Kak Dofi memelukku aku selalu berdebar-debar.
“Rino…aku sudah sembuh. Aku ingat semuanya, termasuk Kak Dofi.” Rino diam. “RINO!”teriakku. “Eh, syukur deh Rei. Aku seneng banget.”jawabnya dengan nada yang sedikit sedih campur bingung. Aku yakin sesuatu telah terjadi. Apakah itu ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Apakah ada hubungannya denganku? “Rin, ada apa sih? Kok kayaknya ada masalah. Cerita donk! Kita kan pacaran.”ucapku. Rino memandang mataku dalam-dalam. Tiba-tiba ia menggandeng tanganku dan mengajakku pergi ke taman sekolah. Kami duduk di bawah pohon. Ia diam. Ia kembali memandangku, kali ini pandangannya lain. Pandangannya penuh kerinduan dan kasih sayang. Seakan-akan sudah lama tidak bertemu. “Siap ya Rei, mungkin ini bakal bikin kamu syok, tapi aku rasa kamu harus tahu yang sebenarnya. Ini memang bukan hakku buat bilang, tapi setidaknya aku pacarmu.” Ucapan ini bikin aku deg-degan. Aku nggak tahu dia bakal bilang apa. Tapi aku yakin kata-katanya bakal membuka rahasia tentang sesuatu yang ingin kuketahui.
“Rei, pertama-tama aku mo ngomong kalo first love-ku bukan Gina, tapi… orang lain. Dia itu kamu Rei. First love-ku tuh kamu Rei. Aku tahu mungkin kamu bertanya-tanya kok bisa? Aku suka kamu bukan sekarang tapi dulu. Dulu saat kita masih kecil. Waktu itu umurmu sekitar tiga tahun dan aku sekitar lima tahun. Saat itu…
“ Rin-chan! Rei boleh kan manggil Rin-chan, Rinchan. Itu ikut-ikut kaya Shin-chan. Trus Rin-chan juga manggil Rei-chan.”
“Oki deh! Eh Rei. Emang arti chan tuh apa? Kamu tahu?”
“Oh ya, aku pernah tanya sama papa. Katanya waktu papa di Jepang dulu, chan itu buat manggil orang yang disayang.”
“Kalo gitu, aku mau manggil kamu Rei-chan deh! Soalnya aku sayaaaaang banget sama kamu. Kalo udah gede nanti kamu mau jadi pacarku nggak?”
“Eh, kita kan masih kecil, kok mikir yang gituan sih! Tapi… Rei-chan pikir-pikir dulu deh!”
Rin-chan diam, kayak sedih,
“Bohong! Rei-chan mau kok! Soalnya Rei-chan juga sayaaaaaang banget sama Rin-chan.”
Saat itu mata Rin-chan berbinar, “Serius?”
“Serius donk!”
Kemudian Rin-chan menarik Rei-chan dan memeluknya. Erat sekali, hangat dan penuh kasih sayang…
Kamu ingat Rei? Saat itu kita memang masih kecil tapi aku nggak lupa, makanya aku jadi suka sama Gina. Setelah kuamat-amati ternyata kalian tuh ada sesuatu yang mirip. Aku baru ingat tentang kita waktu aku tanya sama mamaku. Dan aku baru tahu semuanya setelah mamaku cerita. Semuanya termasuk ihwal kamu Rei.”ucapnya. Aku baru sadar mungkin itu alasannya kenapa pelukan Rino membuatku nyaman. Membuatku merasakan kehangatan dan kasih sayang. Bukan berdebar tapi perasaan yang lebih lembut. Seakan aku sudah lama bersama Rino. Ternyata kami memang pernah bertemu, dulu…dulu sekali.
“Rei, kamu udah siap? Udah siap terima kenyataan seperti apa pun?” Aku mengangguk pelan. Rino menggenggam tanganku, seakan hendak memberiku kekuatan. “Aku mulai dari awal. Kamu lahir di Jepang. Tepatnya di Kanto. Maka dari itu namamu rada-rada berbau Jepang kan! Waktu itu…
Seorang pegawai baru perusahaan Indonesia-Jepang, namanya Niko Mahargawa. Ia kebetulan dapet daerah Kanto. Saat itu Niko ini sudah menikah dan memiliki seorang putra. Pulang kerja, Niko ini jalan-jalan di taman (koen-jpg). Tiba-tiba dia nglihat ada cewek manis berambut panjang lagi pake yukata. Kelihatannya dia lagi pulang belanja. Belanjaannya banyak banget. Berhubung Niko ini emang orangnya baik hati, dengan sukarela doi mau bantuin cewek itu yang buntut-buntut diketahui bernama Reika Kawai. Niko nganterin Reika ini sampe rumah, yang ternyata nggak jauh dari homestay-nya Niko. Dapat ditebak, si Niko ini jadi hobi main ke rumah Reika. Tapi entah kenapa, Reika tuh kalo pagi ama malem selalu nggak ada di rumah. Kata tetangganya sih ke rumah sakit. Niko mikir dia sakit apa?
Dua hari ini Reika nggak ada di rumah. Niko khawatir banget, soalnya besok lusa doi udah balik ke Indonesia. So doi bergegas ke rumah sakit yang dikasih tahu sama tetangganya Reika. Sampai di sana ternyata Reika emang sakit. Dan kayaknya udah nggak bisa bertahan lama. Besok adalah masa kritisnya. Niko segera berlari menuju kamar Reika, kelihatannya Niko bener-bener jatuh cintrong ama cewek itu.
Saat Niko membuka pintu kamar Reika, terdengar suara tangis bayi. Bayi perempuan. Niko melangkah masuk perlahan. “Niko-san!”ucap Reika lirih. Ia memeluk bayi yang amat cantik. Wajah Reika amat pucat. Reika mengatakan bahwa bayi itu adalah anaknya. Ia tak menceritakan siapa ayahnya, tapi ia tahu hidupnya tidak akan lama. Maka dari itu ia meminta Niko untuk merawat bayi itu kalau terjadi sesuatu padanya. Ia menyerahkan bayi itu untuk digendong oleh Niko. “Kore wa Rei. Demo Reina wa ichiban ii desu yo!( Ini Rei. Tapi kayaknya nama Reina lebih bagus ya!)”ucapnya. Katanya “na” dari Reina, adalah tambahan yang dia ambil dari nama Niko, Niko mahargawA.
Ternyata bayi itu lahir prematur, sehingga selama ini harus dirawat di rumah sakit. Sejak melahirkan kondisi Reika semakin buruk. Hari itu adalah hari yang paling menyedihkan bagi Niko. Hari itu Niko menemani Reika di kamarnya, akhirnya Niko menyatakan perasaannya pada Reika. “Kimi o aishiteru,Reika-chan!(Aku cinta kamu,Reika)” Reika pun mengatakan kalau ia pun amat sayang pada Niko. Maka dari itu ia sekali lagi meminta Niko untuk menjaga anaknya kalau sesuatu terjadi padanya. Niko menggenggam erat tangan Reika. Saat itu Niko benar-benar lupa kalau dia punya anak-istri di Indonesia. Reika tersenyum bahagia sampai akhirnya ia pergi untuk selamanya. Niko menangis. Ia memeluk Reina dan berjanji akan merawatnya seperti anaknya sendiri.
…” Aku menangis. Aku tidak menyangka aku bukan anak papa, aku bukan adik Kak Dofi. Aku sedih sekali. Ternyata orang-orang yang aku anggap keluargaku, hanyalah orang asing. “Rei, kamu nggak papa kan! Aku tahu ini bikin kamu syok. Kalau kamu nggak kuat ndengernya mending diterusin besok aja. Aku nggak mau kamu jadi sedih dan tertekan.”ucap Rino. “Rin, aku nggak papa. Aku masih kuat. Please lanjutin.”ucapku sambil terisaak-isak. Rino mengambil saputangan dan menghapus air mataku. Setelah itu ia melanjutkan ceritanya…
Setelah hari itu, Reina didaftarkan menjadi anaknya, sehingga otomatis nama Reina bukan Reina Kawai lagi, tapi Reina Mahargawa. Awalnya perusahaan tidak mengijinkan anak itu untuk dibawa ke Indonesia. Mereka nggak mau ada skandal. Apalagi bakal susah mengurus semuanya. Dengan susah payah Niko menjelaskan semuanya, bahkan ia sampai bersujud demi membawa Reina. Akhirnya pihak perusahaan luluh juga. Mereka kemudian membantu mengusahakan surat-surat dan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk membawa Reina. Setelah sebulan mengurus semuanya, akhirnya Reina terbang ke Indonesia. Niko belum cerita ke keluarganya perihal Reina. Ia bahkan tidak memberitahu kalau ia akan pulang.
“Ting! Tong!” bel berbunyi. Pintu pun dibuka. Ny. Mahargawa terhenyak melihat suaminya pulang dengan menggendong seorang bayi. “Pa, mama kaget papa pulang sekarang. Itu anak siapa?”. “Ma, dengarkan cerita papa. Ini sangat penting.” Aknirnya Niko masuk dan menceritakan semuanya. Awalnya istrinya keberatan tapi setelah mengamati bayi itu dan ia menangis, istrinya tak tega. Dalam hatinya ia begitu menginginkan anak perempuan, dan Tuhan telah mengabulkannya. Walaupun bukan darah dagingya, dan bukan darah daging suaminya tapi itu adalah anugerah Tuhan. Setelah lama terdiam, akhirnya Ny. Mahargawa mengangguk. Niko meneteskan airmata, ia sempat takut istrinya akan menolak Reina. Hal itu pun diberitahukan kepada Dofi yang baru pulang dari Play Group. Ia berumur 3 tahun. Ia senang sekali karena punya adik baru.
…, begitu Rei, kisah hidupmu yang aku tahu.” Aku kembali menangis, “Rin, pinjem bahumu ya!” Aku pun menangis sepuas-puasnya. “Rei, apapun yang terjadi. Kamu tetep adiknya Kak Dofi. Kalian tetep keluarga.”ucap Rino bijak. Aku mengangguk pelan. Setelah semuanya mereda, Rino mengantarkanku pulang. Sesampainya di depan rumah, untuk pertama kalinya aku mengecup pipi Rino, “Makasih ya Rin!” Aku berlari masuk ke dalam.
Sampai di kamar, aku membayangkan semua kisah hidupku dalam satu rangkaian. Aku berpikir, haruskah aku memeberi tahu papa dan mama, atau Kak Dofi, kalau aku sudah tahu semuanayna. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bersikap seperti biasa? Apakah aku bisa? Aku ingin melupakan segalanya. Aku takut. Tapi, aku masih punya Rino. Oh ya Via, apakah bijaksana kalau aku memberitahunya? Banyak pertanyaan masuk ke kepalaku. Karena kelelahan berpikir akhirnya aku tertidur.
Hosh…hosh… Lelah. Aku sudah berlari begitu jauh. Tapi aku merasa belum cukup. Seseorang mengejarku, aku ingin lari. Tapi kakiku terhenti, ia ingin berdiri. Diam tak bergerak. Dari kejauhan aku melihat siluet sosok yang kukenal. Aku berteriak memanggilnya, tapi ia tak bergeming. Hanya memandangku penuh arti tanpa mendekat. Aku tertangkap.
Aku terhenyak. Saat kubuka mata, aku melihat Kak Dofi menggenggam tanganku. “Ada apa Kak?”tanyaku. Saat itu aku merasa Kak Dofi kembali memandangku dengan tatapan lain. “Aku tadi dikasih tahu sama Rino kalo kamu udah tahu semuanya. Dia takut kamu tertekan. Dia bilang sama kakak biar mbilangin kamu kalo kamu gak perlu khawatir.”-ucapnya “Jadi bener kamu udah tahu kalo kamu lahir di Jepang dan seterusnya.” Aku mengangguk. “Aku tahu aku bukan adik Kak Dofi. Aku juga tahu aku bukan anak papa sama mama. Aku anak seseorang yang bernama Reiko. Aku bahkan gak tahu siapa papaku yang sebenarnya. Aku bahkan gak tahu siapa aku sebenarnya.”ucapku emosi. Semua yang kupikirkan keluar di hadapan Kak Dofi. Air mataku kembali menetes. “Reina, apapun yang terjadi, siapapun kamu, kamu adalah seorang anggota keluarga Mahargawa. Titik.”ucapnya seraya memelukku. Aku menangis sepuasnya di pelukan kakakku tersayang, Kak Dofi. Benar, aku punya Rino dan seorang kakak yang amat sayang padaku.
Setelah hari itu, aku merasa hubunganku dengan Kak Dofi bukannya makin jauh, tapi justru semakin dekat. Entah kenapa, tapi aku merasa tenang kalo ada di deket Kak Dofi. Aku baru merasakan kehadiran seorang kakak yang sebenarnya. “Rino, thanks ya kamu udah mbesarin hati aku. Aku sekarang udah merasa lebih baik. Thanks juga kamu udah ngasih tahu ke Kak Dofi. Aku jadi tenang karena kata-kata Kak Dofi waktu itu.” Rino tersenyum, “Ya, jelas donk! Gue kan pacarmu. Walaupun begitu, awas jangan macem-macem ama Kak Dofi. Sebenernya aku cemburu ma dia. Abis dia bisa bareng ma kamu tiap hari. Padahal dia bukan kakakmu asli. Ha…Ha…Becanda kok!” Bukan kakak… Entah kenapa kata-kata itu begitu mengena di hatiku. Iya juga, Kak Dofi berarti bukan kakak kandungku donk! “Eh, Rin, omong-omong kalo aku ngasih tahu ke Via gimana? Masalahnya kalo aku mo curhat-curhat kan bingung kalo nggak ke Via.” Setelah lama berpikir, Rino bilang nggak papa asal Via gak bilang siapa-siapa. “Eh Rei, kamu juga bisa curhat-curhat sama aku lho! Gimana-gimana aku nih pacarmu yang paling baik sedunia. Mau jam berapa, mau kapan aja, aku pasti ada. Telpon aja! Kalo penting banget, aku siap melesat ke sampingmu. Otreee…”ucapnya kemudian. Aku tersenyum bahagia. Aku mengangguk. Aku bergerak menuju pelukan Rino. Ia mendekapku erat seakan ingin membuatku selalu disampingnya. Pelukannya selalu membuatku terbuai, membuatku merasa nyaman, dan membuatku tenang. Aku harusnya bersyukur, aku begitu beruntung mempunyai dua orang yang sangat berharga. Rino, orang yang paling penting bagiku. Orang yang begitu aku sukai yang selalu tersenyum untukku. Dan seorang kakak yang baik dan bijaksana, yang sayang sekali padaku seperti adik kandungnya sendiri. Terima kasih Tuhan….
“REI!!!”panggil seorang cewek dari lorong sekolah. Ternyata Gina. “Apa Kak Gina?”tanyaku. “Enggak, aku cuma mau cerita. Kamu sibuk gak? Kalo nggak, aku mo nraktir kamu di kantin. Please…”ucapnya. “Sorry ya ,Vi! Aku duluan.”ucapku pada Via. Ia mengangguk. Sampai saat ini aku belum cerita ke Via, soal semuanya. Aku harap secepatnya. Omong-omong, Kak Gina mo ngomong apa ya?
“Rei, aku cuma mo nanya tentang Dofi. Belakangan ini aku ngrasa dia jadi lebih perhatian ke aku. Padahal selama ini aku selalu berusaha mendapatkan perhatiannya, dan tidak begitu berhasil. Tapi sekarang ini aku merasa sepertinya baru sejak saat ini Dofi suka sama aku. Aku gak tahu, tapi seakan-akan selama ini ia tidak pernah suka sama aku. Padahal udah jadian lama. Gimana ya ngomongnya? Yang penting aku seneng banget. Itu artinya aku udah bener-bener jadian ma Dofi. Setidaknya pengorbananku selama ini gak sia-sia.”kisahnya sambil tersenyum bahagia. Aku seneng-seneng aja. Setidaknya kakakku mendapatkan cewek yang baik. Gina cerita dia pernah mbikinin bekal buat Kak Dofi, dateng tiap latihan basket,jadi supporter tiap pertandingan plus mbawain handuk dan peralatan yang diperlukan Kak Dofi, nge-hadiahin sepatu basket yang bikin kantongnya bolong. Dan selama itu Kak Dofi menanggapinya sambil lalu. Aku bisa mengerti kenapa Gina begitu bahagia dengan perubahan Kak Dofi. Karena pada akhirnya orang yang begitu dicintainya merespon cintanya. “Aku ikut seneng lho kak! Akhirnya Kak Dofi menemukan pujaan hatinya.”ujarku.
Sesaat aku teringat ucapan Rino tentang doi ma Gina. “Eh Kak Gina, dulu pernah jadian ma Rino ya? Tapi kok kakak mutusin Rino waktu mo masuk SMU?” Gina terdiam. Ekspresi mukanya berubah. Ia lalu berkata, “Itu karena kamu, Rei. Dulu waktu kita pertama jadian, aku seneng banget. Gimana juga Rino kan oke. Apalagi dia nembak aku. Tapi lama kelamaan aku kok ngrasa sebenarnya dia tuh bukannya suka ama aku. Mirip banget kaya perlakuan Dofi dulu. Karena aku penasaran banget, abis EBTANAS-an aku tanya ke dia. Masa dia jawabnya karena aku tuh mirip ama cewek yang selalu ada di otaknya. Dia bilang mungkin aku tuh yang dimaksud. Aku trus nanya, kenapa dia gak begitu perhatian ke aku. Dia bilang dia sendiri gak tahu, katanya itu reflek. Jelas aja aku sakit hati. Itu artinya dia cuma mainin aku. Ya … aku putusin aja. Aku pikir dia emang salah orang, jadi daripada sakit nanti, mending bubar aja. Ternyata emang bener kan! Yang dicari sama dia tuh kamu, bukan aku. Jadi aku merasa keputusanku dulu nggak salah. Sebenernya setelah tak pikir-pikir, kita tuh rada mirip.”ucapnya panjang lebar. Saat itu aku berpikir, berarti selama ini Rino selalu mencariku, sampai-sampai dia salah orang. Apakah sebegitu besarnya rasa cinta Rino padaku? Apakah itu juga yang membuatku selalu mencarinya, selalu teringat padanya, bahkan saat aku amnesia, hanya dialah yang aku ingat. Apakah sebegitu besar rasa cintaku padanya? Apakah sebegitu eratnya perasaan kami yang kami bangun dari kecil?
Saat itu hatiku berbunga-bunga, aku begitu bahagia. Aku pun tidak sabar untuk bertemu Rino. Sesampainya di rumah, aku segera menelepon Rino dan menyuruhnya segera datang ke rumah. Aku bilang aku tuh kangen banget ma dia. Nggak sampai 10 menit, batang hidung Rino sudah kelihatan di depan pintu kamarku. “Ada apa sih, Rei? Kok semangat banget nyuruh aku dateng. Bilang-bilang kangen. Baru nggak ketemu bentar aja, udah kangennya kayak gitu.”ucapnya ngeledek. “Ya udah deh kalo kamu gak kangen ma aku, mending balik aja lagi!”sanggahku. “Becanda, gitu aja marah. Emang napa sih?”tanyanya lagi penuh perhatian. Akhirnya aku ceritain semua yang aku pikirin tadi. Aku juga tanya seberapa besar cintanya ke aku. “Cintaku ke kamu ya ?”ucapnya setelah aku menanyakan hal itu. Ia terdiam sejenak. Memejamkan mata beberapa detik, lalu menatap mataku dalam-dalam penuh arti. Ia memegang tanganku, tanpa berkata apa-apa. Perlahan ia mengangkat wajahku dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Ia menciumku.
Spontan aku memejamkan mataku. Ini first kiss-kami. Aku merasakan sesuatu yang amat indah. Setelah itu Rino mendekapku erat, “Aku cinta kamu, Rei. Aku sangat mencintai kamu. Sejak kita mengikat janji waktu itu, kamu adalah bagian dari diriku. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kamu diambil dariku. Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan sekali-kali berpaling dariku.” Aku kaget. Aku tidak menyangka Rino akan berkata seperti itu. Dekapannya sungguh membuatku nyaman, membuatku tidak ingin beranjak. Aku terharu. Air mataku menetes ke punggungnynya. “Aku juga cinta benget sama kamu Rin, aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu. Aku janji.” Ia mengecup keningku.
“Lho kok kamu malah nangis sih Rei? Dicium malah nangis. Pengen lagi?” Dasar sok cool. Suasana romantis tadi jadi hilang ditelan omongannya yang nggak pada tempatnya itu. “Huu… bukannya kamu yang pengen. Mo nyium gak bilang-bilang. Kalo misalnya aku gak mau, gimana? Gini-gini itu kan first kiss-ku!”ucapku asal. “Sama donk! Itu juga first kiss-ku.” Setelah Rino bilang kayak gitu, tiba-tiba mukaku jadi merah. Aku malu banget. Aku baru nyadar kalo tadi aku ciuman sama Rino. Lucunya waktu aku ngelihat mukanya doi, mukanya merah juga. “Udah deh, nggak usah malu-maluan lagi. So … mau lagi nggak?”ucapnya jahil. “Dasar genit ! Sorry deh… ntar kalo ketahuan orang lain gimana?” Saat itu aku melihat wajahnya merajuk kayak anak kecil, “tapi,,, kalo cepetan ya… gak papa deh!” lanjutku. Aku hampir ketawa lihat mukanya tiba-tiba cerah kayak anak kecil dapet permen. “Serius?” Aku mengangguk. Ia tersenyum. Aku pun memejamkan mataku. Wajahnya mendekat ke wajahku dan …
“PRAANG!” Ia menghentikan gerakannya. Aku melihat mug Doraemonku pecah di depan pintu kamarku. Ternyata di sana ada… “Kak Dofi! Kakak kok ada di situ.”ucapku sambil salah tingkah. Aku menengok ke Rino, dia cool-cool aja. Dasar cowok! “Ehm, sorry ngeganggu. Kakak cuma pingin mbawain lemon tea panas buat kamu. Tapi kayaknya aku malah ngotorin kamarmu. Sorry, biar tak beresin.”ucap Kak Dofi dengan nada yang aneh. “Udah deh, biar aku ma Rino aja yang mberesin.” Aku dan Rino berjalan ke arah Kak Dofi. “NGGAK USAH!”sanggahnya. Aku dan Rino terdiam. Kami saling memandang. Aku tak berani melawan Kak Dofi. Kak Dofi begitu serius.
Tak lama ia pergi membawa pecahan mug itu. “Kak Dofi kenapa sih, Rei? Kok kayaknya marah. Apa dia marah gara-gara aku nyium kamu.”tanya Rino khawatir. “Aku juga bingung. Kamu nggak usah khawatir deh! Sekarang kamu balik aja ya!”jawabnya. “Eh Rei, sebenarnya aku ke sini ada urusan penting.” Rino mengaduk-ngaduk tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Ia mengulurkannya padaku. “Nih tanda mata dariku.” Amplop. Apa ya? Perlahan-lahan aku membuka amplop itu. Wow… dua tiket travel tour ke Jepang. “Aku udah susah payah ngumpulin tabungan buat beli ini. Tanggalnya pas banget sama tanggal awal liburan kita. Aku harap kamu mau ikut. Itu tiket buat kita berdua. Soal ijin, aku bakal mintain ijin ke bokap-nyokap. By the way, kamu punya paspor kan!” Aku mengangguk. “Rin, ini beneran? Aku seneng banget. Apa sama nyokap-bokap mu nggak dilarang? Ini mahal banget, Rin!” “Rei, aku lakuin semua ini demi kamu. Aku tahu, kamu juga pingin lihat tanah airmu yang satunya lagi dan aku pingin akulah yang memberimu itu. Bukan orang lain. Aku… Rino, cowok yang cinta banget ma kamu.” Aku kembali menatap matanya dalam-dalam. “Makasih banget ya, Rin. Kamu tuh tahu banget ya! Aku trima ini. Soal papa-mama, aku yakin mereka bakal setuju. Tapi Kak Dofi … gak papa, nanti aku bilang ke dia.” –“Kamu tahu gak Rin? Aku sayang banget ma kamu. Aku tuh cewek yang beruntung karena punya kamu. Kamu tahu?”tanyaku sambil menggenggam tangannya yang hangat. “Tahu.”jawabnya singkat tapi amat jelas. Ia menarik bahuku dan kembali memelukku erat. “Aku tahu.”ucapnya lagi. Setelah beberapa saat kami saling berpandangan. Tiba-tiba ia secepat kilat mengecup bibirku. “Daa! Sampe besok ya, Rei!” Ia pun pergi meninggalkan diriku yang mematung. Sambil memegang bibirku, aku tersenyum bahagia.
Saat aku masih memikirkan tentang Rino dan kepergian kami ke Jepang, tiba-tiba Kak Dofi muncul di pintu kamarku. “Rei, kakak mau ngomong penting.” Ia masuk dan mengajakku duduk di atas tempat tidurku. Aku bingung. Aku masih heran dengan kelakuan Kak Dofi tadi, tapi aku memberanikan diri untuk bertanya. “Tadi kakak kenapa? Kok aneh?” Kak Dofi terdiam. Ia menggenggam tanganku dan mengelus rambutku. “Aku udah gak tahan Rei. Aku udah nggak bisa lagi nutupin ini.” Nutupin? Apa yang Kak Dofi maksud? Ketika aku serius berpikir, Kak Dofi mendekatkan wajahnya ke wajahku. Spontan aku mendorongnya. “KAK DOFI! Kakak keterlaluan! Apa sih yang kakak pikirin? Aku ini adik kakak!” Aku berteriak. Tanpa sadar air mataku menetes. Aku takut. “Aku sejak dulu udah sayang ma kamu, Rei. Bukan sebagai kakak, tapi sebagai seorang cowok biasa. Aku nggak bisa mbiarin kamu jalan ma Rino. Aku nggak kuat liat kamu … kamu … dicium cowok itu. Aku udah berusaha ngelupain kamu, tapi aku cemburu. Aku nggak bisa.” Kak Dofi menangis. Ia menangis.
Aku syok mendengar semua ucapannya. Aku … aku … juga sayang banget sama Kak Dofi, tapi aku nggak cinta. Aku nggak mungkin cinta sama kakak sendiri. Kak Dofi terduduk. Ia meringkuk di bawah kakiku sambil menangis. Tubuhnya yang begitu besar, punggungnya yang begitu luas, kini terlihat kecil. Perlahan kedua belah tanganku merengkuhnya. Aku memeluknya. Aku ikut menangis bersamanya. Aku tidak begitu paham bagaimana perasaanku waktu itu, tapi semuanya terasa begitu mendadak. Aku juga tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya aku lakukan. Semuanya mengalir begitu saja. Bagai air terjun. Aku merasakan betapa aku sangat menyayanginya. Aku tidak bisa melihatnya menangis. Aku tidak tega melihatnya menderita. Aku ingin menentramkan hatinya, tapi apakah yang aku lakukan saat ini benar?
Esoknya Kak Dofi bahkan tidak sarapan. Ia langsung pergi ke sekolah. Saat Rino menjemputku, aku bimbang. Apakah aku harus cerita ke dia soal perasaan Kak Dofi? Apakah bijaksana kalau aku diam? Aku terus terdiam sampai Rino menegurku. “Rei! Kok diem aja sih? Kamu sakit? Kamu gak papa kan?” Ia menghentikan motornya di depan gerbang sekolah. Aku menggeleng. “Gak papa kok! Aku cuma sedikit capek. Nggak bisa tidur sih semalem!” “Mikirin aku?” Deg! Aku mengangguk cepat. “Dasar cewek! Yuk ntar telat lho!” Kami pun segera masuk ke sekolah, tapi aku rasa ia merasakan keanehan pada diriku.
“Via, aku mo cerita, tapi kamu jangan cerita ke siapa-siapa ya!” Siang itu di bawah pohon dekat kantin, aku menceritakan tentang diriku yang sebenarnya ke Via. “Kamu serius Rei? Jadi kamu bukan adiknya Dofi?” Aku mengangguk. “Trus ada satu lagi Vi, semalem Kak Dofi nyatain cintanya ke aku. Aku belum cerita ke Rino, aku nggak mau dia bingung.” Via terlihat lebih kaget daripada tadi. Ia bingung dan lumayan syok denger itu semua. “Aku tahu kamu bingung, tapi aku mohon jangan ceritain ke siapa-siapa ya!” Via mengangguk. Saat itu aku menoleh dan melihat Rino berdiri di sebelahku. Ia mendengar semuanya. “Rei, aku perlu ngomong! Vi, sorry aku pinjem Rei bentar.” Ia menarik tanganku dan mengajakku pergi meninggalkan Via sendiri.
Di belakang kantin dekat parkiran kami berhenti melangkah. Rino berbalik dan menatapku dalam penuh kasih sayang, seperti tatapannya yang biasa, tapi kali ini lebih dalam lagi, seakan ingin mengungkapkan sesuatu namun sulit mengutarakannya dengan kata-kata. Setelah beberapa saat ia akhirnya berlutut sambil memegang tanganku, “Jangan tinggalkan aku, Rei!” kata-kata itu kembali dilontarkannya padaku. “Aku udah denger soal yang tadi. Aku tahu kamu juga sayang sama Kak Dofi, tapi…” Jantungku berdetak kencang, aku tak sadar kalau ternyata Rino begitu khawatir dan cemas. Aku pun ikut berlutut, “Rin, aku percaya sama kamu, jadi kamu juga harus percaya sama aku.” Kami saling bertatapan sampai akhirnya “Aku percaya.”ucapnya seraya memelukku erat, “Jangan pernah berpaling dariku, Rei!”
“Rin, dilihat orang.”
“Biarin ah!”
“Kalo ketahuan guru, gimana?”
“Masa bodo!”
“Kalo guru BP di belakangmu gimana?”
“Ya…cuekin aja. Paling-paling dia yang pengen.”
“Ehm … ehm … Maaf bapak mengganggu. Bapak nggak pengen,” Hi … hi … muka Rino langsung berubah abu-abu, lucu banget. “Eh, bapak. Eng, misi pak, mau ke kelas.”ucap Rino gelagapan. Aku memberi tanda nyuruh dia pergi. Rino ngacir deh! “Dasar anak-anak jaman sekarang!”ucap Pak Bolon, guru BP kami. Sayang pak guru nggangguin. Walaupun Rino sudah pergi, tapi kehangatannya masih terasa. Kecemasan yang tadi ada kini hilang seketika. Saat aku masih terdiam, Via datang dan menepuk pundakku. “Rino marah gak? Trus tadi gimana sama Bolon-ku”tanyanya. “Nggak, dia nggak marah. Sebel nggak, pas aku sama Rino lagi asyik, Bolon dateng ngeganggu. Ya… udah kepalang basah Rino tak suruh pergi. Untung gak diapa-apain.” “Emang kalian lagi ngapain?”tanya Via lagi. Aku tersenyum-senyum, “Aja ada!” “Dasar!”umpatnya.
Hari berganti hari, ternyata udah menjelang Ujian Akhir Semester. Hubunganku dan Kak Dofi masih dingin. Ngomong aja super jarang. Belakangan Kak Dofi juga murung banget. Aku nggak tahu aku harus ngapa. Aku udah cerita ke Rino, kata dia mending aku ngajak ngomong duluan, tapi aku takut ditolak. Bukan ditolak cintanya lho! Cintaku kan hanya untuk Rino seorang. Takutnya dia malah nyuekin, itu yang bikin aku nggak mau ngajak ngomong duluan. Walaupun begitu, aku tuh udah kangen berat sama dia. Biasanya tiap hari bercanda-tawa. Nggak ngomong sehari aja rasanya kayak nggak ngomong sebulan. Sepi. Apalagi ini hampir dua minggu lho! Padahal minggu depan udah U.A.S. Gimana donk!
Wah, lusa udah U.A.S nih! Malam itu hujan turun. Rino belajar bareng di rumah. Rino kan jago Matematika sama Fisika. Maka dari itu aku butuh banget bantuannya. Mana aku belum ngomong-ngomongan sama Kak Dofi. “Eh Rei, gimana Kak Dofi?” Aku menggeleng tanda belum baikan. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang. “Rei, kakak punya sesuatu buat kamu.” Deg! Itu Kak Dofi. “Masuk aja, nggak dikunci.” Kak Dofi pun masuk. Ia agak kaget melihat Rino. “Oh ada kamu, Rin.”ucapnya sinis. Aku kaget juga mendengar kata-kata Kak Dofi. Habisnya kayak-kayak nggak suka ada Rino di sini. Aku juga agak salting lihat reaksi Rino yang agak nggak suka juga. “Ehm, ada apa kak?”tanyaku akhirnya. Kak Dofi menyerahkan HVS yang sudah ditulisi ringkasan materi, warna-warni lagi. Kayaknya ini tulisan tangan Kak Dofi sendiri. Aduuh… Aku heran, dua cowok ini kok melakukan hal yang sama sih. Rino tuh juga mbikinin aku ringkasan materi sama rumus-rumus. Ya … dibikin penuh warna, tapi dijilid sekalian kayak buku. Ada gambarnya, tapi pake komputer. Rino lihat hasil karya Kak Dofi juga agak-agak … gitu deh pokoknya. Kak Dofi ngelihat buku yang dibikinin Rino buat aku, “Eh, Rino udah mbikinin buat kamu. Ya udah deh. Yang ini gak usah. Sorry ngganggu,” Kak Dofi berbalik mau keluar. Aku menarik bajunya, “Eh nggak papa. Buat tambahan.” Setelah menyerahkan ringkasan itu ke aku, ia bergegas keluar. Sebelum keluar, tiba-tiba ia memanggil Rino, “Rin, bisa ngomong sebentar. Empat mata.” Mereka keluar dari kamarku.
Kak Dofi mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke tembok, Rino kaget, padahal ia juga sudah pasang kuda-kudaan. “Rin, sorry aku memang kekanak-kanakan. Mungkin kamu udah tahu dari Rei, kalo aku jatuh cinta sama dia. Tapi, sekarang aku bahkan nggak berani ngomong sama dia. Aku takut aku kehilangan dia. Aku bahkan nggak bisa berlaku sebagai seorang kakak yang baik. Aku bener-bener cemburu ngelihat kalian berdua.”ucapnya. Rino tercengang. Ia tidak menyangka Kak Dofi akan berkata seperti itu. “Kakak tega ya! Trus gimana Gina? Kakak lupain gitu aja?”sahutnya. Oh ya Gina! Sejak aku diem-dieman sama Kak Dofi, aku nggak ketemu sama Gina. Apa dia yang menghindar ya? “Aku memang pengecut! Aku ninggalin Gina gitu aja. Aku nggak bisa lagi sama dia, karena aku cinta ama Reina.” Rino marah. Ia bersiap memukul Kak Dofi kalau saja aku tidak segera menghentikannya. “STOP!” Aku berjalan ke arah Kak Dofi, “Plakkk!” Aku menamparnya.
“Kakak bukan lagi Kak Dofi yang aku kenal. Kak Dofi yang aku kenal orangnya baik. Pemalu. Lemah lembut. Kak Dofi yang dulu nggak akan memperlakukan Gina seperti itu. Kak Dofi yang dulu akan menerima Gina. Apa Kak Dofi nggak tahu perasaan Gina? Sakit, Kak! Sakit!” Rino bengong denger aku bilang hal-hal seperti itu. Aku menghela napas dan melanjutkan ucapanku sementara Kak Dofi melihatku dengan wajah yang sedih campur bingung, campur sari kali! “Kakak tahu? Gina cerita sama aku kalo dia ngerasa Kak Dofi udah mulai mencintai dia. Mulai bisa menerima dia. Mulai care ama dia. Apa kakak nggak punya perasaan?” Air mataku sampai menetes karena sedih campur marah campur kesal. Melihat aku mulai menangis, Rino mendekatiku, “Udah Rei, cukup!” Aku terisak-isak di pelukan Rino. Nyaman sekali.
Sehari sebelum U.A.S aku nggak bisa mikir apa-apa. Semuanya berputar-putar di dalam ingatanku. Aku bingung. Aku nggak tahu harus ngapain lagi. Akhirnya aku putuskan untuk duduk-duduk di kebun depan rumah, yah refreshing! Saat aku bersiap akan duduk, aku melihat sosok yang tak asing. “GINA!!!”panggilku. Gina? Tumben dia dateng. “Rei, Dofi ada? Aku mau pamit. Soalnya besok aku mau pindah ke Lampung. Ikut ayah.”katanya. Aku bilang ada. Waktu aku mau manggil Kak Dofi, eh orangnya langsung muncul di depan pintu. “Aku tinggal ya.”ucapku sambil tersenyum pada keduanya.
“APA! Pindah ke Lampung? Kok mendadak sih, Gi?”
“Soalnya Papa jadi dirut di cabang Lampung.”
“Tapi …”
“Aku Cuma mau pamit, aku tahu kamu nggak pernah cinta ma aku. Biar gitu, aku tuh sayang banget sama kamu. Aku nggak bisa pergi sebelum bilang ini sama kamu.”
“Gina … aku …”
“Sampai ketemu, bye …”
Saat Gina akan pergi, Kak Dofi menarik tangannya.
“Tunggu.”
“Mau apa lagi, Dof?”
“Aku … memang … belum bisa sepenuhnya mencintai kamu, tapi … abis denger tentang kamu dari Reina, aku mulai ngrasa … aku … kamu …”
“Apa sih maksudmu? Aku nggak ngerti!”
Gina beranjak pergi sambil berusaha menarik tangannya, tapi Kak Dofi justru memeluknya.
“Lepasin, Dof!”
“Maaf, Gin. Aku nggak akan ngelepasin kamu.”
“Udah, Dof! Jangan kamu boongin aku lagi. Aku udah cukup sakit.”
Gina menangis, tapi ia tidak lagi berusaha melepaskan diri dari Kak Dofi. Ia merasa aman dan nyaman di sana.
“Gin, kamu tahu? Semaleman aku mikirin kamu. Aku begitu bodoh sampai aku melupakan kamu. Aku baru sadar setelah Reina nampar aku. Aku sadar kamu sebenarnya mempunyai arti dalam hatiku.”
“Dof … “
“Walaupun yah … hanya sedikit, tahu-tahu saja kamu sudah ada dalam pikiranku. Aku rasa kalau kamu mau ngasih aku kesempatan sekali lagi, aku bisa mencintai kamu sepenuhnya.”
“Dof, cukup! Sekarang lepasin aku!”
Gina akhirnya lepas dari pelukan Kak Dofi. Ia berjalan pergi meninggalkan Kak Dofi sambil berkata, “Emangnya kamu pikir, setelah apa yang kamu lakuin ke aku, aku mau ngasih kesempatan ke kamu? Kamu tahu apa tentang aku?” Kak Dofi tersenyum, “Ya. Aku tahu. Aku yakin.” Gina melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. “Kak Gina!Ja …”teriakku. “AKU MAU!!!” Kak Gina berbalik dan berlari ke arah Kak Dofi. Kak Dofi menyambutnya hangat. Mereka serasa telah menemukan sesuatu yang hilang. Aku senang sekali. Aku bahagia.
Besok hari pertama U.A.S, aku merasa belum tenang kalo belum cerita ke Rino. Akhirnya aku pencet deh nomor teleponnya.
“Halo? Rino? Eh Gina ama Kak Dofi udah baikan lho! Jadi, Kak Gina nggak jadi ke Lampung.”
“Syukur deh!”
“Kok Cuma itu?”
“Emang apa lagi? Itu semua juga berkat kamu. Eh, udah bilang ke Kak Dofi soal ke Jepang itu? Waktu itu tiketnya kamu kasihin ke aku lagi kan!”
“Belum sih, nanti deh! Tiketnya ada kan! Ya udah ya …”
Aku menutup teleponnya. Setelah memantapkan hatiku, aku bergegas menemui Kak Dofi. Di depan pintu kamarnya, aku terdiam. Saat aku mau mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka. “Ada apa, Rei?”tanya Kak Dofi sambil ngucek-ngucek mata. Aku kaget. Aku nggak nyangka Kak Dofi menyadari kehadiranku walaupun dia sedang tidur. “Kok kakak tahu sih, kalo aku dateng?” Ia tersenyum manis (maniez sekali kaya nenek-nenek meringis). “Ya jelas, aku kan kakakmu. Aku udah hapal langkah kakimu sejak kecil, dasar!” Deg! Kok jantungku berdebar ya? Padahal cuma denger Kak Dofi ngomong kayak gitu. Ya ampuun …
“Rei, kok diem?”
“Ah … gak.”jawabku gelagapan.
“Ada apa?”
“Aku mau bilang, kalo liburan besok, aku diajak Rino ikut Tour Travel berdua ke Jepang.”
“Apa? Serius. Rei?”
“Jelas donk, kak! Aku belum bilang ke mama papa.”
Kak Dofi terdiam. Aku merasa ia akan melarang. Setelah lama berpikir, akhirnya ia berkata, “OK, aku yang bilang ke mama papa. Aku yakin Rino pasti udah ngluarin duit banyak buat ini. Pantes belakangan ini kakak lihat dia latihan keras. Pasti biar menang basket trus dapet duit.” Deg! Jantungku berdebar lagi. Aku ini kenapa sih? Aku heran, dalam salah satu sudut hatiku, aku ingin Kak Dofi melarangku. Sebenarnya apa sih mauku? Bukannya aku mau ikut? Ah … sudahlah! “Kak makasih.”
Seminggu U.A.S berjalan lancar. Tinggal nunggu pembagian rapor aja. Saat itu aku memutuskan untuk minta pendapat Via. Aku menceritakan kebingunganku ke Via. Ia malah menambah masalahku hanya dengan pertanyaan, “Rei, sebenernya kamu suka ama siapa sih?”
“Ya jelas Rino donk, Vi!”
“Kalo gitu, Kak Dofi, gimana?”
“Ya … kakakku. Just that!”
“Kamu yakin? 100 %?”
“Emang napa? Kamu ragu?”
“Ya, aku ragu. Habis kamu tuh, kayak-kayak juga ada something ama Kak Dofi, mungkin kamu sendiri gak sadar. Kamu mesti inget, Kak Dofi bukan kakak kandungmu. Saat rasa itu muncul, kamu sendiri nggak bisa menahannya.”
Aku terdiam. Apa iya? Masa? Nggak mungkin lah aku juga punya perasaan cinta ke Kak Dofi. Aku sadar kalau dia tuh hanya kakakku. Tidak lebih. Yang aku cintai saat ini dan seterusnya hanyalah Rino seorang. Cuma Rino! Apakah ini yang dinamakan dilemma? Inikah dilemma itu? Jika ya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolonglah aku!
Kacau. Pikiranku kacau. Kok bisa-bisanya sih aku mikir kayak gitu. Masa ? Tapi … apa mungkin? Apa … Via bener? Tanyakan pada hatimu, dan kau akan tahu siapa yang paling penting bagimu. Oh iya, aku coba tanya pada hatiku. “Siapa sih yang paling penting buatku?” “Rino” “Kak Dofi” “Rino” “Kak Dofi” “Ri …” Aduh! Kok dua-duanya sih! Siapa yang ngasih ide? Kayaknya nggak bener deh! Ah udah ah pusiiiiing!!! Omong-omong, hari penerimaan rapor tepat seperti hari ulang tahunku. Ternyata seminggu lagi aku berumur tujuh belas tahun, Sweet Seventeen. Asyik! Mana Seninnya aku bakal terbang ke Jepang. Tahun ini adalah tahun yang menyenangkan! Aku udah punya cowok sih! So … There will be a nice Sweet Seventeen. Berhubung U.A.S udah selesai biasanya SMU Pelita Nusantara mengadakan Class Meeting. Kata Kak Dofi, tahun ini bakal ada Pertandingan Basket antar kelas. Pokoknya seru deh! Paling seru lagi, pertandingan perdananya, kelasnya Rino vs kelasnya Kak Dofi. Mmmm … melihat hal ini aku jadi merasa takdir juga mempermainkanku. Guru olah raga tuh! Masa pertandingannya kok 3.4 vs 2.4 sih! Emang nggak ada kelas lain? Aku kan pingin nyuporterin dua-duanya! Gimana juga, pacarku di 2.4 dan kakakku di 3.4, ya nggak? Memang … cuma itu kan alasannya?
“Priiiiit! Pertandingan akan segera dimulai!” Ah! Itu Kak Dofi. Aku melambaikan tangan ke dia, tapi … mata Kak Dofi tertuju ke tribun bawah. Ternyata … Gina. Kak Dofi bahkan tidak membalas lambaianku. Aku sedih.
“Rei! Jangan ngelamun! Tuh, Kak Dofi manggil!”
“Ha … ah. Apa Vi?”
“Ya ampun …”
“Apaan sih?”
“Kak Dofi manggil-manggil kamu!”
Eh, iya. Ternyata Kak Dofi menyadari keberadaanku di sana. Dia melambaikan tangannya sambil bertanya, “Rino mana? Kok nggak ikut pertandingan?”
“Kak, yang bener?”
“Kamu ngelindur ya? Lihat aja! Nggak ada kan!”
Setelah celingak-celinguk mencari sosok Rino, aku baru sadar kalau dia nggak ada di lapangan.Tadi pagi sih, aku masih berangkat bareng. Setelah itu, aku nggak tahu dia ke mana. Akhirnya aku bilang ke Kak Dofi kalau aku juga nggak tahu ke mana Rino pergi. Kak Dofi bilang tadi pagi kayaknya Rino pergi ke mana gitu. Kok Rino nggak bilang ya? Aku harap Rino nggak kenapa-kenapa. Selain itu, ternyata 2.4 tanpa Rino lumayan juga. Masih bisa mengimbangi 3.4 walaupun ada Kak Dofi. Meskipun begitu, 2.4 harus menerima kekalahan dengan selisih hanya 2 angka. Sayang banget! Rino sih! Coba tadi dia ikut main. Mmmm … tapi Rino ke mana ya?
Sesampainya di rumah, aku langsung telepon Rino. Udah nunggu lama, tapi nggak diangkat-angkat juga. Sebenarnya ke mana sih? Aku agak khawatir. HP-nya nggak aktif. Uuuh … bikin aku cemas aja! Pokoknya aku terus kepikiran. Aku sampai nggak bisa makan. Akhirnya aku memutuskan tanya ke Kak Dofi. Aku berjalan ke kamarnya. Sebelum aku mengetuk pintu, eh … pintunya kebuka. “Ada apa, Rei?”tanya Kak Dofi. Lagi-lagi Kak Dofi menyadari kedatanganku. “Cuma mo nanya.”jawabku. “Masuk aja, Rei. Aku ama Dofi cuma lagi ngobrol kok!”tiba-tiba dari daun pintu menyembul wajah Gina yang ayu. Deg! Ternyata ada Gina. “Eng, gak penting kok! Nanti ngganggu lagi… Bisa-bisa Kak Dofi protes ama aku! Udah deh, lanjutin obrolannya! Aku balik aja …” Saat aku berjalan menuju kamarku, ada suatu perasaan yang merasuki hatiku. Rasanya dingin. Aku nggak tahu, tapi aku kayak ngrasa Kak Dofi udah direbut dariku.
I don’t know this feeling
I just feel terrible
I wish I can fly above
Even without wings
I wish I can forget everything
Even just for one sec
I wanna run away to unknown place
Even it’s just a dream
It’s about my misery
I can’t escape
Aku tidak tahu perasaan ini
Aku hanya merasa buruk
Aku ingin terbang
Walau tanpa sayap
Aku ingin melupakan semuanya
Walau hanya satu detik saja
Aku ingin lari ke tempat asing
Walau hanya dalam mimpi
Ini semua tentang deritaku
Aku tak bisa berpaling
Dalam sekejap saja kata-kata ini terlintas dalam pikiranku. Aku nggak tahu, tapi yang pasti perasaanku kacau. Kacau.
Sudah 2 hari, sejak hilangnya Rino. Aku sudah ke rumahnya. Yang kutemukan hanyalah rumah kosong. Aku tanya Gina, dia juga nggak tahu apa-apa. Dia malah senyum-senyum penuh rahasia. Ah … entahlah. Mungkin dia ada urusan keluarga. Bingungnya, kok nggak ngabari aku? Walaupun begitu, aku percaya Rino gak bakal macem-macem, tapi … bagaimana dengan aku sendiri? Saat ini hatiku sungguh kacau. Aku serasa dikenai dilemma yang begitu hebat. Sekarang aku ragu akan cintaku ke Rino, aku nggak yakin lagi.
Hari-hari Class Meeting cepat berlalu. Namun, hari-hari itu tak seindah apa yang aku impikan. Semua terasa suram. Aku masih nggak paham sama perasaanku. Padahal itu semua tentang diriku sendiri, kok bisa-bisanya ya aku bingung? Mana nggak ada Rino di deketku. Aku kesepian. Aku cuma bisa ngelihat Gina berbahagia dengan Kak Dofi. Aku … aku … jujur saja, aku … IRI. Aku CEMBURU.
Aku sedih karena hanya aku yang merasakan kesepian yang seperti ini. Aku nggak mau sendiri, walaupun ada teman-temanku, aku tetep kesepian. Aku udah kehilangan Kak Dofi yang dulu hanya mencurahkan seluruh perhatiannya ke aku? Apa hanya itu? Apa hanya sebatas itu rasa cemburuku ke Gina? Apa hanya itu perasaanku ke Kak Dofi? Hanya kakak? Tidak lebih? Aku … aku … gak tahu. Aku nggak bisa memutuskan hal itu. Apa aku hanya kesepian ditinggal Rino tanpa pesan? Apa ini semua karena aku kangen banget ama Rino? Aku emang kangen. Tanpa dia aku kesepian, tapi apa hanya itukah nilai Rino di hatiku? Hanya teman hati? Lalu sebenarnya di manakah perasaanku tertuju?
Aku masih nggak ngerti. Entah apa yang terjadi kalau Rino kembali. Apakah yang terjadi pada hatiku ini? Aku ingin menetapkan hatiku pada satu titik saja, tapi … Rino di mana? Aku butuh kehadirannya, tapi yang kutemukan hanyalah kehampaan. Aku tak bisa menemukannya di mana pun. Di mana pun….
Sweet Seventeen yang menyedihkan. Hari ini hari ulang tahunku plus hari pengambilan rapor. Walau hari ini hari jadiku yang ke-17, tapi hari ini tidak terasa sesuatu yang spesial. Langit mendung, seakan-akan ingin mengejekku. Aku males bangun. Rasanya aku ingin tidur saja. Aku gak mau pergi ke sekolah. Aku gak minat lihat nilai-nilaiku. Aku …
“Woi!!! Adekku tersayang yang pualing maniiieeezz, ayo kita ke sekolah! Udah jam 7 nih!”teriak Kak Dofi dari depan pintu.
“Iya Kak! Kakakku yang paling baek sedunia….”
“Cepetan sana mandi! Aku tunggu di meja makan ya!”
“Oki Bos!”
“Eh, jangan lama-lama! Aku mo cari informasi buat masuk universitas nih!”
“Iya… aku bakal ngebut. Ya udah sana! Aku mo mandi.”
Suara itu, suara yang aku suka. Suara yang selalu setia memanggilku. Suara orang yang menyayangiku. Suara … ah! Kok aku malah mikir yang nggak-nggak. Aku akhirnya memutuskan untuk cepat bersiap. Omong-omong, kok Kak Dofi, Mama, and Papa nggak ngucapin Met Ultah ke aku ya? Biasanya mereka membangunkanku sambil mencium keningku dan tak lupa ngucapin Met Ultah. Ada apa ya? Apa mereka lupa ya? Ah … bodo amat!
Beberapa langkah lagi aku sampai di sekolah. Ah … males! Aku pengen pergi dan memalingkan langkahku, tapi aku nggak mau ngecewain Kak Dofi yang udah bela-belain nunggu aku. Kan sayang kalo dilewatkan gitu aja. Aduh, lagi-lagi aku mikir yang nggak-nggak. Sebenarnya aku tuh suka ma siapa? Aku tuh sayang ama Rino. Aku sayang banget. Di lain pihak aku juga sayaaaaang banget ama Kak Dofi. Aku nggak suka kalo dia lagi sama Gina. Aku bener-bener benci ama diriku sendiri. Kok aku jadi kaya’ gini ya? Sudahlah! Lebih baik aku segera ambil raporku, habis itu kabur ama temen-temen. Beres kan! Coba ada Rino, aku pasti udah diajak kabur ke suatu tempat dari tadi malem. Rino … Rino … berkali-kali aku panggil kamu ga dateng-dateng. Kamu di mana sih? Kamu tuh pergi ke mana? Masa kamu tega ninggalin aku di ultahku yang ke-17 ini? Aku kesepian, Rin. Aku bener-bener ngerasa sendiri.
“Reina Mahargawa!”ucap Bu Mia, wali kelasku. “Reina! Reina! Kamu nggak papa, Nak!” Aku segera tersadar dari lamunanku, “Maaf, Bu!” Aku beranjak dari kursiku dan berjalan menuju meja guru yang berada tepat di depan lemari kelas.
“Rei, selamat ya! Kamu dapet rangking tiga. Nilai-nilaimu juga naik. Selain itu, ibu ingat, hari ini ulang tahunmu kan! Selamat Ulang Tahun ya!”
“Makasih ya, Bu! Ibu orang pertama yang memberi selamat pada saya.”
“Sama-sama. Denger-denger dari Pak Dudu, wali kelas kakakmu, kakakmu bisa masuk ITB, sesuai jurusan yang dia inginkan, soalnya nilai-nilai kakakmu bagus.”
“Iya, Bu. Kakak saya memang pintar. Saya sering diajari sama dia.”
“Ya sudah, kembali ke kursimu.!”
Aku berjalan kembali ke kursiku. Rangking tiga, hadiah yang tepat di hari ulang tahunku. Namun, aku tidak merasa bahagia. Bukannya aku tidak mensyukurinya, aku cuma merasa ada yang kurang daalm hidupku. Aku merasa ada sesuatu yang hilang. There is something missing from my heart. Aku nggak begitu paham perasaan ini. Aku berusaha untuk mencari tahu jawabannya, tapi aku tidak bisa menemukannya di mana pun. Bahkan di lubuk hatiku. Aku merasa sesuatu itu bersembunyi jauuuh di lubuk hatiku yang paling dalam.
Saat acara pengambilan rapor selesai, aku segera keluar dari kelasku. Penat dan sesak rasanya. Rasa pilu dan sepi makin menjalar di hatiku. Aku … entah kenapa aku merasakan kesepian yang mendalam. “REINA!!!” ah … ada suara memanggilku. Siapa?
“O…kak Dofi to?”
“Emang kenapa kalo aku? Kecewa?”
Huh… hari gini masih aja bercanda. Iya aku emang nunggu Rino, we!
“Iya, sedikit. (tersenyum) Nggak kok! Emang ada apa kak?”
“Cuma mo nanya nilaimu. Bagus nggak?”
“Ya… ngasih tahunya sambil jalan aja ya! Kita ngobrol yuk! Aku kangen ngobrol berdua ma Kak Dofi.”
“Boleh. Ayo!”
Akhirnya kami berdua berjalan bersama menuju taman sekolah, tepatnya di bawah pohon mangga. Aku, jujur saja senang sekali! Karena saat ini gak ada Gina di dekat Kak Dofi. Habis kalo ada Gina, aku jadi gak leluasa, gimana ya? Agak canggung gitu deh!
Setelah kami berdua duduk. Aku langsung mengucapkan selamat pada Kak Dofi. Aku ingat kata bu guru tadi kalo Kak Dofi diterima di ITB.
“Kak selamat lho! Kakak hebat bisa masuk ITB. Aku tahu dari Bu Mia. Aku … sedih juga kakak jadi pindah ke Bandung. Aku pasti kesepian. Aku jadi nggak ada yang mbangunin kalo pagi. Aku pasti kehilangan kakak banget! Sebenarnya aku ingin kakak kuliah di kota ini aja! Gak perlu sampe pindah segala! Aku lebih suka Kak Dofi di sini., tapi itu artinya aku egois ya… aku ngehalangin impian kakak ya? Tapi aku …”
Tiba-tiba saja, aku berkata panjang lebar seperti itu. Aku tak kuasa menahan air mataku. Tahu-tahu saja air mataku sudah menetes deras dari pelupuk mataku. Wajahku tertunduk, aku tak mampu lagi memandang wajah Kak Dofi, memandang matanya yang tajam. Aku…
“Aku nggak bisa kalo Kak Dofi nggak ada! Apalagi saat ini, aku merasa gak punya siapa-siapa…”ucapku lagi. Tiba-tiba aku merasakan kehangatan di kepalaku. Tangan Kak Dofi yang besar dan hangat mengelus kepalaku. Aku mengangkat wajahku. Aku merasakan desiran ketenangan di hatiku setelah menatap dalam matanya yang tajam namun lembut itu.
“Riena, kakak tau. Karena kakak juga merasa begitu.”ucap Kak Dofi. Tangannya yang besar itu menarik kepalaku mendekat ke dadanya. Dia memelukku. Kak Dofi memelukku. Aku entah kenapa menangis. Menangis sekuat-kuatnya. Dengan mata penuh air mata, aku mengangkat kepalaku. Aku kembali melihat mata Kak Dofi. Dua tangan Kak Dofi memegang kepalaku. Ia mencium keningku.
“Riena… kenapa?”ucap seseorang yang suaranya sudah tak asing ditelingaku. Aku menoleh “RINO!”teriakku. “Riena, kenapa kau mengkhianatiku?”ucapnya lagi. Sebuket bunga mawar merah yang ada ditangannya serta sebuah kotak yang aku tidak tahu apa isinya terjatuh dari tangannya. Dia segera berbalik dengan mata penuh kepedihan tanpa mengatakan apapun atau mau mendengar penjelasan apapun. Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan mengejarnya.
“RINO, TUNGGU!!!” tapi Rino tidak menghentikan langkahnya. “RINO! Kamu salah paham. Kamu salah…” ucapku sambil terduduk lemas. Aku diam. Ia menghentikan langkahnya dan membalik badannya. “Riena, kau tahu, aku benar-benar sayang ma kamu. Aku nggak nyangka kamu… ah, selama aku pergi kamu mengkhianati cintaku, cinta kita, janji kita. Padahal aku begitu mempercayaimu. Percaya kalau kamu akan selalu ada untukku. Percaya kalau kamu… juga mencintaiku, tapi ternyata… aku nggak mau percaya dan nggak bisa percaya. Sebenarnya apa salahku? Mengapa kamu tega?”ucapnya. Aku mendongakkan wajahku, tapi aku tak mampu menatap matanya yang sarat akan kekecewaan. Aku tahu aku tak berhak menyangkal. Pada hakekatnya aku memang merasa aneh dengan perasaanku ke Kak Dofi, walau itu mungkin saja pelarian karena aku merasa kehilangan Rino. Namun, itu sama saja dengan sebuah penghianatan. Aku mungkin secara tak sadar telah menghianati cinta Rino yang begitu tulus. Aku memang salah.
Hari ulang tahun terburuk yang pernah aku alami. Hari ulang tahun yang aku kira dapat menjadi hari yang paling membahagiakan, malah aku sendiri yang menghancurkannya. Mungkin ini memang hukuman buatku karena menyakiti orang yang menyayangiku. “Riena, Kak Dofi boleh masuk?” suara Kak Dofi membuyarkan lamunanku. “Iya, Kak! Masuk aja, nggak dikunci.” Aku melihat mata Kak Dofi penuh penyesalan. ‘Nggak, Kak. Aku juga salah. Waktu itu bukan utuh salahmu.’ Aku sungguh ingin mengatakannya, tapi aku nggak sanggup.
“Ada apa kak?”
“Maaf, Rei. Tadi kakak kebawa nafsu. Maaf Rino jadi marah ma kamu. Kalo perlu biar kakak yang njelasin ke dia.”
“Nggak papa kok, kak. Biar nanti Riena sendiri yang urus.”
“Kakak kan belum jawab pertanyaan Riena.”
“Ini.”ucapnya sambil menyerahkan buket bunga dan kotak dari Rino.
“I…ni yang dibawa Rino tadi?”
“Iya. Aku pikir ini harus diserahin ke kamu. Udah ya, Kak Dofi tinggal.”
Melihat sosok Kak Dofi keluar dari kamarku, aku menarik napas panjang.
Riena, Selamat Ulang Tahun yang ke-17. Semoga panjang umur, makin pinter, makin cantik, n makin sayang ma aku. Di hari ulang tahunmu ini aku hadiahin sebuket mawar 99 tangkai untuk menandakan betapa aku sangat mencintai kamu. Dan sebuah hadiah lagi yang mungkin kamu akan suka. Maafkan aku beberapa hari pergi tanpa pamit sama kamu. Aku mungkin udah bikin kamu khawatir. Aku cuma mau bikin surprise buat kamu.
“HAPPY BIRTHDAY!”
Rino-chan
Mawar merah 99 tangkai, yang artinya Rino bener-bener mencintai aku dan ingin cinta kita bisa abadi, tapi aku justru menodainya. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku. Aku bener-bener udah nyakitin perasaan Rino. Tiba-tiba aku melihat kotak kecil yang dibungkus dengan kertas kado pink dan pita merah. Perlahan aku meraih kotak itu dan membukanya. Seandainya saat ini aku berada di pesta ulang tahunku, aku tentu akan berteriak kegirangan. Namun justru sebaliknya, saat ini aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Kotak ini berisi sebuah kalung dengan liontin kelopak bunga sakura, dan yang paling bikin aku terharu, dalam kotak itu terdapat kelopak-kelopak bunga pink yang aku pikir adalah kelopak bunga sakura. Aku tak bisa berkata apapun, yang bisa aku lakukan hanya menangis menyesali segala perbuatanku.
Waktu terus berlalu. Nggak terasa sebentar lagi adalah hari kenaikan kelas, di mana aku akan naik ke kelas dua, Kak Dofi udah lulus dan masuk ITB, Kak Gina naik ke kelas tiga, juga Rino. Sejak saat itu, kami hampir nggak pernah saling menyapa. Aku tanpa sadar selalu menghindari sosoknya. Saat Kak Dofi bersama Kak Gina, aku tak lagi merasa sedih atau cemburu. Yang aku rasakan adalah kepedihan karena penghianatanku ke Rino, dan hal itu berjalan selama 6 bulan lamanya. Teringat olehku kisahku dan Rino saat masih bersama. Aku baru menyadari siapakah orang yang paling aku sayang. Namun, sudah terlambat. Aku sudah tak mungkin bisa menggapainya. Karena sosoknya bagai bintang yang jauh di atas sana.
“Ting! Tong!”bel dari speaker yang berada di tiap kelas di sekolah ini. “Pengumuman. Siswa-siswi harap segera menuju lapangan, karena sebentar lagi upacara kenaikan kelas akan segera dilaksanakan… bla… bla….”Pak Bolon terus saja mengatakan hal-hal yang sudah kami ketahui. Ah… baru sadar aku kalo sekarang aku sudah berada di kelas baruku. “Ayo, Vi! Kita ke lapangan.” Aku melangkahkan kaki keluar dari kelasku, tapi tiba-tiba lagkahku terhenti mendengar suara Pak Bolon berubah dan memanggil namaku. “Riena….”
Aku terdiam, dan tak bisa berjalan. Aku hanya bisa mematung, berdiri tak bergerak. Suara itu kembali berbicara, “Riena, aku nggak tahu apa yang sebenarnya aku lakukan saat ini. Namun, aku sudah nggak bisa menahan semuanya. Aku ingin mengatakan sekali lagi bahwa aku sangat mencintai kamu.” Sorak riuh semua kawanku, tertuju padaku, tapi aku tetap tak beranjak dari tempatku. Aku tahu suara ini suara Rino. Air mataku menetes, setetes demi setetes. “Riena, maafkan aku. Saat itu aku terlalu syok, sehingga nggak mau ndenger penjelasanmu. Aku juga heran, kenapa saat itu kamu nggak menyangkal apa yang aku omongin, tapi sekarang aku sadar. Tak seharusnya aku memvonismu. Aku nggak mikirin perasaanmu. Maafkan aku. Aku sudah memikirkannya selama 6 bulan lamanya. Ternyata cintaku ke kamu nggak pernah berkurang. Walau aku mencoba untuk melupakanmu, aku nggak bisa. Yang ada malah aku kepikiran kamu terus.” Sorak sorai teman-temanku makin menjadi-jadi, tapi tak cukup kuat untuk menghentikan air mataku yang makin deras. “Kangenku ke kamu malah bikin aku makin nggak bisa melupakanmu. Aku nggak tahu gimana perasaanmu ssat ini. Aku harap aku bisa tahu, karena aku ingin kita kembali bersama seperti dulu, saat kita pertama kali mengikat janji akan bersama selamanya. Aku…” Sebelum kalimat itu berlanjut, aku segera berlari, disertai teriakan riuh dari semua tenmanku aku terus berlari menuju ruang klub penyiar, tempat di mana Rino sekarang seharusnya berada. Selangkah demi selangkah aku terus berlari menuju mimpiku.
“RINOO!”teriakku. Aku berhenti di depan pintu. Ia menoleh dan tersenyum. “Apa aku bisa tahu, perasaanmu saat ini?”tanyanya. Aku berlari dan langsung memeluknya sambil terus meneteskan air mata. “Bisa, tapi sebelumnya biarkan aku bicara.” Rino mengelus kepalaku. Aku tenggelam dalam suasana ini. Rasanya begitu hangat, tapi aku harus segera menyatakan semuanya pada Rino. Harus. “Rino, maafkan aku. Aku mungkin sempat berpikir bahwa aku juga punya perasaan ke Kak Dofi. Apalagi waktu itu aku begitu rapuh karena aku merasa kehilangan kamu. Aku benar-benar kesepian. Apalagi aku merasa Kak Dofi, kakakku, udah direbut dariku. Namun, setelah aku benar-benar kehilanganmu, aku baru tahu siapa yang sebenarnya aku sayang. ‘Ikatan keluarga tidak akan putus karena keluarga tetap keluarga meski jauh, tapi beda dengan orang yang kita cintai. Kita harus berusaha bisa bersama dengan orang yang paling kita cintai.’ Mengingat kalimat itu, aku baru sadar. Kalo aku cuma merasa kehilangan seorang kakak yang selama ini selalu ada untukku. Karena kebimbanganku, aku sampai harus melukai perasaanmu. Maafkan aku. Saat ini aku ingin mengatakan lagi, kalau aku sayang ma kamu.” Rino melepaskan pelukannya, tapi nggak melepaskan pandangannya ke aku. Dia bersiap akan menciumku. Aku reflek memejamkan mataku. Wajahnya terasa mekin dekat ke wajahku, tangannya yang hangat menyentuh wajahku. Deg! Deg! Hatiku berdebar kencang. “Ehm… ehm. Maaf bapak mengganggu, tapi sekarang bukan saatnya kalian melakukan itu.”ucap Pak Bolon dengan wajah merah. Rino menghentikan gerakannya. Tampaknya dia lupa kalau Pak Bolon dari tadi berada di situ. Berarti… waduh malu aku! Bisa-bisanya aku nggak sadar kalo ada Pak Bolon di situ. Yang bikin aku tambah malu lagi, Rino nggak menghentikan niatnya, dia nekat menciumku di depan Pak Bolon. “Ihiiiii….”teriak teman-temanku yang ternyata dari tadi udah ngintip dan nguping di depan pintu. Ya ampuuuuun… mau ditaruh mana mukaku? Ya… nggak papa lah, yang penting saat ini aku benar-benar bahagia. Rino segera menarik tanganku dan berlari keluar dari ruangan itu.
“Rino.”
“Apa.”
“Aku sayang kamu.”
“Aku juga, tapi kayaknya kita harus siap menanggung malu ama seluruh sekolah deh!”
“Kenapa? Kan tadi cuma Pak Bolon n beberapa temen kita.”
“Aku lupa matiin speakernya. Jadi… “
Haaaaaah! “RINOOO!”teriakku. Dia hanya tertawa. Akhirnya aku juga tertawa. Saat dia menggandeng tanganku, aku bisa merasakan kebahagiaan yang sudah menunggu di depanku. Selamat tinggal dilemmaku!
copyright(c)LuzvimindaSetyawan
any use without permission is prohibited
[arthyarchie@yahoo.com] [siti.luzviminda@gmail.com]